Minggu, 07 April 2013

Ternyata, Tidak Ada Bukti MSG Berbahaya ?

Jika Anda adalah salah satu orang tua yang
memarahi anaknya jika memakan sesuatu
hal yang berbau MSG, pelajarilah artikel
ini, tapi jangan kaget & percaya 100%...
Semoga artikel ini bermanfaat untuk
mommies yang sedang menjaga
kesehatan... Cekidot..,
Apa, sih, yang sebenarnya terkandung
dalam MSG? Benarkah MSG segitu
berbahayanya bagi tubuh?
MSG (Mono Sodium Glutamate) adalah
garam dari asam amino glutamate. Asam
amino ada beberapa jenis, merupakan
struktur terkecil dari protein. Jika kita
mengonsumsi MSG, molekul MSG akan
terurai menjadi glutamate dan garam
natrium yang kemudian diserap oleh usus
kita.
Glutamate terdapat sebagai kandungan
alami berbagai jenis makanan seperti
tomat, keju (terutama keju parmesan),
scallop, terasi, dll.
Penyerapan dan penggunaan glutamat
dari MSG maupun dari sumber makanan
alami oleh tubuh kita adalah sama,
sehingga penggunaan MSG sebagai zat
tambahan makanan (kelompok food
additives termasuk garam, gula, dll)
dinyatakan aman oleh WHO dan berbagai
badan kesehatan makanan di berbagai
negara, termasuk oleh BPOM di
Indonesia.
Ketakutan orang akan MSG bermula pada
1968 dengan adanya laporan kesehatan
berupa keluhan rasa mual, pening, lengan,
dada, dan wajah serasa terbakar,
berdebar-debar, dan sesak nafas setelah
makan masakan Chinese. Namun pada
penelitian yang lebih mendalam, ternyata
keluhan-keluhan ini tidak terbukti
berhubungan langsung dengan MSG.
Bagaimana dengan penelitian yang
mengatakan MSG dapat menyebabkan
kerusakan sel otak dan kanker?
Penelitian yang menghubungkan MSG
dengan kerusakan sel otak dilakukan pada
mencit (sejenis tikus kecil, red.) dan
kelinci percobaan dengan cara
memberikan MSG dosis luar biasa tinggi
dengan cara paksa ke dalam lambung atau
menyuntikkan MSG dosis luar biasa tinggi
ke dalam otak atau rongga perut hewan
percobaan.
Pada manusia, konsumsi MSG untuk
mendapatkan efek yang diinginkan, yaitu
menyedapkan makanan, tidak pernah
terbukti berefek merugikan.
Apakah MSG aman untuk anak-anak?
ASI juga mengandung glutamate bebas,
sehingga menurut para pakar yang
tergabung dalam pertemuan konsensus
Hohenheim di Jerman pada tahun 2007
berpendapat bahwa bayi ternyata
mengonsumsi glutamate dalam jumlah
yang lebih besar per kg berat badannya
dibandingkan dengan orang dewasa.
Apakah MSG juga aman untuk wanita
hamil?
Menurut para pakar dalam pertemuan
consensus Hohenheim tahun 2007,
glutamate dosis tinggi sekalipun tidak
akan masuk ke dalam sirkulasi darah
janin. Penelitian pada mencit jantan dan
betina yang diberi dosis tinggi MSG 6.000
mg/kg berat badan per hari pada yang
jantan, dan 7.200 mg pada yang betina
tidak menunjukkan adanya gangguan
sistem reproduksi mencit-mencit tersebut
dan tidak ditemukan gangguan
perkembangan janin. Juga tidak
ditemukan kelainan jaringan seperti lesi
atau abnormalitas lainnya pada otak
hewan penelitian.
Jadi tidak perlu khawatir terhadap mitos-
mitos buruk tentang MSG.
Jika sebenarnya MSG tidak berbahaya,
lalu mengapa sepertinya masyarakat
segitu parnonya pada MSG?
Bagaimana pendapat Anda, dok?
Masyarakat senang dan menerima dengan
cepat segala sesuatu yang bersifat instant,
popular, dan berita yang mengonfirmasi
mitos yang selama ini dipercaya olehnya.
Masyarakat kita cenderung memercayai
apa yang ada di majalah popular, televisi,
dan internet karena kurangnya
pemberitaan seimbang.
Pemberitaan seimbang maksudnya adalah
pemuatan berita popular yang disertai
tanggapan pakar di bidang tersebut.
Contohnya di bidang gizi, tentunya berita
tentang gizi akan lebih seimbang bila
disertai tanggapan dari dokter spesialis
gizi, misalnya. Dengan demikian,
masyarakat mendapat berita yang
obyektif dan lebih up-to-date dari
pakarnya.
Mohon dikoreksi jika salah, tapi saya
pernah baca bahwa penggunaan MSG
dalam masakan justru bagus karena di sisi
lain dapat mengurangi pemberian gula-
garam yang berlebih saat memasak.
Benar tidak, sih, dok? Jadi sebenarnya
lebih baik memasak dengan MSG atau
dengan gula-garam?
Penggunaan MSG bertujuan untuk
meningkatkan rasa dan nikmatnya
makanan. Glutamate dalam MSG
merangsang sensor rasa umami di dalam
indera pengecap di lidah, mulut, hingga ke
saluran cerna bagian atas, dan
menimbulkan rasa nikmat dengan sensasi
seperti makan daging atau ikan. Tentunya
berbeda dengan rasa asin, manis, pahit,
dan asam yang juga dapat dirasakan oleh
indera pengecap kita. Jadi, tidak mungkin
mengganti MSG dengan gula walaupun
memang benar bahwa MSG dapat dibuat
dari tetesan tebu setelah mengalami
proses alami berupa fermentasi yang
menghasilkan glutamate. Jadi jelas efek
umami dari MSG tidak dapat digantikan
oleh gula.
Pada diet rendah garam, pasien sering
mengeluh rasa makanan menjadi tidak
enak. Penggunaan MSG dapat membantu
meningkatkan rasa enak pada makanan
rendah garam dengan tetap menurunkan
kandungan natrium dalam makanan,
karena kandungan natrium MSG hanya
1/3 dari garam dapur.
Meski aman, tapi segala sesuatu bila
berlebihan, kan, tidak baik. Nah, untuk
MSG, berapa batasan aman konsumsinya
per hari? Apakah ada rekomendasinya
dari WHO?
ADI (Acceptable Daily Intake) yaitu
asupan harian yang wajar untuk MSG
dinyatakan ‘not specified’ atau tidak
ditentukan, yang berarti boleh digunakan
sesuai keperluan, tanpa perlu dibatasi
berapa maksimalnya. Tidak ditentukan
batasan maksimal oleh WHO karena tidak
ada bukti bahwa MSG berbahaya bagi
kesehatan. Penggunaan MSG sebagai zat
tambahan makanan dalam dosis yang
lazim sehari-hari masih aman.
Adakah kondisi atau penyakit khusus
di mana pemberian MSG tidak
dianjurkan?
Pada kondisi penyakit yang memengaruhi
sawar darah-otak (blood brain barrier)
dan pada pasien yang dianestesi dengan
obat isofluran, mungkin MSG perlu
dihindari. Namun sebagai catatan: kondisi
tersebut sangat jarang.
Nah, berdasarkan wawancara tersebut,
ternyata tidak perlu segitu parnonya pada
MSG walaupun tetap harus berhati-hati.
Reaksi atau efek hasil konsumsi berbeda
untuk tiap individu jadi bijaklah dalam
mengonsumsi makanan yang mengandung
MSG. Segala hal yang berlebihan, kan,
nggak baik juga :)

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates