Minggu, 07 April 2013

Bagaimana Nasib Pendiri Friendster?

Saya percaya, pasti salah satu dari orang
yang membaca artikel ini ada yang
merupakan pengguna friendster dahulu
kala.. Tahukah anda, friendster sudah
dibeli oleh perusahaan malaysia dan
menjadi website bermain game. Tapi
sepertinya, Anda belum tau siapa
pembuatnya.. Mau tau nasibnya,
cekidot..
Jonathan Abrams tentu nama yang
terdengar asing di telinga. Tapi, jika
menyebut Friendster, pasti Anda pernah
mendengar, atau bahkan aktif di jejaring
sosial yang bisa dibilang pertama
tersebut. Nah, Abrams merupakan pendiri
Friendster.
Abrams memang tak mencapai ketenaran
seperti Mark Zuckerberg yang mendirikan
Facebook, dan hanya diketahui sebagai
orang yang mendirikan Friendster. Meski
begitu, Friendster tetap dikenang sebagai
jejaring sosial pertama, yang lahir setahun
sebelum MySpace dan dua tahun sebelum
Facebook.
Sayang, popularitas Friendster semakin
meredup. Lalu, bagaimana nasib Jonathan
Abrams sekarang?
Mengutip laman GigaOm, Abrams
diketahui mendirikan start up baru yang
bernama Nuzzel, yang juga layanan serupa
jejaring sosial berpadu news feed.
Jika Friendster dinilai gagal karena terlalu
awal memasuki "pesta media sosial",
perusahaan baru Abrams diprediksi
menghadapi kendala awal: Apakah Nuzzel
berhasil mencuri perhatian di saat pasar
social-news mulai sedikit meredup.
Sebelum mendirikan Friendster,
sebenarnya Abrams pernah mendirikan
sejumlah start up yang juga menjadi
pelopor di bidangnya. Misalnya, Hotlinks,
yang merupakan layanan social-
bookmarking. Pria kelahiran Kanada ini
mendirikan Hotlinks setelah keluar dari
Netscape.
Sayangnya, Hotlinks diluncurkan terlalu
cepat, dan lima tahun sebelum Delicious
sukses menjadi layanan social-
bookmarking.
Abrams juga pernah meluncurkan situs
perencanaan event bernama Socializr.
Sayangnya, situs ini tak berhasil menarik
perhatian dan dijual pada 2010.
Ketika itulah Abrams kemudian pindah ke
San Francisco. Abrams kemudian
mengelola klub malam bernama Slide dan
private club, sekaligus ruang kerja
bernama Founders Den.
Meski begitu, Abrams mengaku tetap
tertarik dengan media sosial. Salah satu
ketertarikannya adalah untuk mengatasi
masalah informasi yang membeludak
(overload), yang sering dialami jejaring
sosial seperti Twitter.
"Saya pernah mulai menjauhkan konsumsi
berita dari RSS dan tempat seperti
MyYahoo. Dan saya mulai menggunakan
Twitter lagi, dan lagi," tutur Abrams,
seperti dikutip dari GigaOm.
"Tapi, saya menemukan jika mengecek itu
beberapa kali dalam sehari, saya merasa
kehilangan banyak hal. Saya butuh
sejumlah tool yang bisa membantu saya
untuk mengatur segala sesuatu,"
ucapnya.
Tapi, bukannya mengecek salah satu
layanan terkait penyedia filter dan
rekomendasi seperti Zite atau Summify,
programmer yang mulai bekerja di
laboratorium Bell Northern Research di
Kanada ini malah memutuskan untuk
membuat layanan sendiri. Ini yang
menjadikan Abrams mendirikan Nuzzel.
Pengguna kemudian login menggunakan
profil dari akun Twitter atau Facebook dan
logaritma milik sistem Nuzzel akan masuk
ke arus aktivitas pengguna. Selain itu,
akan menarik artikel berita yang telah di-
share dan direkomendasikan oleh
sejumlah followers.
Layanan ini juga menggunakan sinyal
semantik untuk meng-generate konten
yang direkomendasikan, yang telah di-
share oleh seseorang dalam grafik sosial
milik pengguna.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates