Jumat, 27 September 2013

Pesan terakhir ayah | sebuah kisaf inspiratif

Sobat,
Apakah arti sebuah kehidupan bila kita
tidak bisa membuat orang yang kita
sayangin merasa bahagia dan
mendapatkan sebuah tempat yang
nyaman di akhir hidupnya.
Dulu,
Setiap pagi saya masih ingat ketika
saya kecil, saya dan adik saya selalu
berangkat dengan sebuah vespa tua
milik ayah saya untuk pergi ke sekolah.
Walaupun bunyinya tidak enak didengar,
tapi itu lah kenangan terindah dalam
hidup saya. mengapa? karena dengan
sepenuh hati Ayah saya mengantarkan
saya pergi ke sekolah. Setiap paginya
ayah saya bangun di pagi hari untuk
bersiap-siap mengantarkan saya,
sedangkan ibu saya sibuk membuat kue
yang akan dia perdagangkan di pasar
sebagai satu-satunya mata pencarian
yang menopang kehidupan keluarga
kami walaupun ayah juga bekerja
sebagai dokter rumahan tradisional.
Ayah saya adalah seorang pekerja
yang mengandalkan jasanya untuk
mengobati anak-anak yang sakit, ayah
termasuk orang yang dhermawan. Iya
dikenal luas oleh tetangga-tetangga
saya sebagai orang yang baik hati
karena terkadang menolong pasien
yang datang dengan gratis karena
tidak mampu, tidak heran ditempat
saya yang lingkungannya masih
terbelakang karena kebanyakan dari
mereka adalah pedagang di pasar
mengenal baik ayah saya. Ibu saya juga
wanita tangguh dan tidak pernah malu
berdagang kue di pasar, ia sadar
keluarga kami sederhana dan hanyalah
ini yang ia bisa lakukan agar saya dan
adik saya tetap dapat bersekolah.
Saya tidak pernah tau mengapa ayah
saya sering sekali bangun di pagi hari
dan batuk tiada henti hingga selalu
membuat saya terbangun dari tidur
saya. Hal itu terjadi nyaris 3 tahun
terakhir hingga saya lulus dari bangku
sekolah dasar dan masuk sekolah
menengah utama, sejak saat itu saya
tidak pernah diantar oleh ayah saya
karena saya bersekolah di siang hari
sedangkan adik saya masih pergi
bersama ayah. Ayah adalah orang
yang mengutamakan orang lain, saya
pernah ingat suatu ketika di malam hari
seorang ibu datang mengetuk pintu
kami disaat kami berisrihat bersama
bayinya. Ibu itu menangis karena
anaknya mengalami kesulitan bernafas,
ayah saya dengan sigap menolong ibu
itu walaupun saat itu bukan jam
prakteknya.
Merasa iba dengan cerita ibu muda itu
yang mengaku kehilangan suaminya,
ayah bukan hanya memberikan gratis
pengobatan tapi juga membantu
memberikan uang seadanya untuk ibu
itu agar bisa membeli obat kepada
anaknya, paginya saya mendekat pada
ayah karena saya ingin memberi buku
pelajaran baru dengan polos ayah
mengaku uang yang ia siapkan untuk
membeli buku baru saya telah diberikan
kepada ibu yang bertandang ke rumah
kami semalam. Saya sedih sekaligus
marah tapi ayah mengingatkan saya
bahwa buku saya masih bisa saya beli
nanti bila ia berhasil mendapatkan uang,
tapi saya mendapatkan satu pelajaran
dari pengorbanan ayah kelak hari.
Keesokan paginya tidak seperti
biasanya ayah batuk-batuk tiada henti
hingga membuat kami cemas, ibu yang
masih membuat kue sampai
meninggalkan kuenya demi meminta
tolong tetangga saya karena kondisi
ayah sangat parah hingga batuk
mengeluarkan darah. Saya bersedih
hati ketika melihat beberapa tetangga
saya pergi membawa ayah saya dan
menyarankan saya bersama adik saya
dirumah saja. Dengan cemas saya
berpikir ayah akan kembali pada siang
hari dan ternyata saya salah hingga ibu
pulang seorang diri sambil mengatakan
saya harus bersiap-siap berkunjung ke
rumah sakit.
Ketika tiba di rumah sakit, saya melihat
ayah sudah dalam keadaan tidak
mampu berdiri dengan alat bantu
pernafasan yang dihempaskan suster
mengunakan tabung kecil ke mulutnya.
Saya dan adik saya langsung menangis
melihat keadaan itu, saya bertanya
kepada ibu saya apa yang terjadi
mengapa ayah bisa sampai diperlakukan
demikian. Ibu mengatakan pada saya
untuk mendekat pada ayah dan
katakan hal yang ingin saya katakan
pada ayah untuk terakhir kalinya. Saya
tertenggun dan sadar bahwa ayah
sedang menunggu saya untuk bicara,
adik saya yang masih kecil seperti tidak
terlalu mengerti keadaan ayah tapi ikut
menangis.
Saya dekati ayah saya dan bertanya
apakah ayah akan baik baik saja. Beliau
tersenyum dan hanya mengeluarkan air
mata, paman saya yang sudah memang
sejak awal disana mengatakan kepada
saya untuk bilang bahwa saya ikhlas
dan harus mengatakan sebuah pesan
terakhir untuk ayah saya, saya turutin
permintaan paman saya dengan tangis
terendap-endap saya berkata
” Papa, kalau memang papa harus
pergi. Saya ihklas, saya janji untuk
menjaga adik dan Mama. Dan akan
menjadi anak yang berbakti !”
Ayah hanya mampu menuliskan pesan
lewat tangannya
” Maafkan papa tidak bisa memberikan
buku yang papa janjikan..”
Dan senyuman terakhir ayah saya
menjadi kenangan terakhir pada saya,
saya cium kakinya untuk terakhir
kalinya dan usai pemakaman saya baru
menyadari bahwa ayah saya mengidap
kanker paru-paru. Saya bersyukur
disaat kematian ayah saya banyak dari
tetangga saya yang beraneka ragam
ikut membantu prosesnya dan bahkan
mereka juga memberikan bantuan dana
untuk meringankan beban saya.
Terdengar oleh saya dari seorang tamu
yang datang untuk memberikan
penghormatan terakhir kepada ayah
saya
” Dia ( ayah saya) adalah seorang
dokter yang bisa menolong orang
dengan baiknya tapi sayang dia tidak
bisa menyadari apa yang terjadi dalam
dirinya. Orang ini begitu mulia, lihatlah
hampir semua pasien yang pernah
ditolongnya datang untuk memberikan
penghormatan”
Saya bangga sekaligus bersedih hati,
ayah saya sukses sebagai seorang
manusia yang mengajarkan saya
tentang arti kehidupan dan menolong
orang. Ibu saya mungkin orang yang
paling mengalami cobaan paling hebat
dalam hidupnya ketika harus menjadi
tulang punggung sepenuh hati setelah
ayah saya meninggal. Saya juga
berjuang untuk membantu beban
keluarga saya agar ibu saya bisa
tertolong karena adik saya masih
membutuhkan dana yang besar guna
mendapatkan pendidikan sembilan
tahun. Tapi syukuran kehidupan kami
bisa berjalan dengan baik berkat ibu
saya yang memang wanita luar biasa.
Dewasa ini saya menjadi penulis novel
dan salah satunya yang saya tulis
adalah kisah perjuangan seorang anak
melawan kanker seperti yang saya
alami. Kisah yang saya tulis bukan
semata mayang untuk menghibur tapi
menyampaikan sebuah pesan dan kisah
inspiratif, saya bersyukur bahwa saya
berhasil untuk pesan saya ini. kisah
yang saya tulis dalam novel saya telah
membuat banyak orang terisnpirasi
akan perjuangan dan arti kehidupan
Setelah saya menepati janji saya untuk
menjadi anak yang berguna dan
berbakti, Saya pun teringat oleh janji
ayah saya kepada saya tentang buku
yang akan ia janjikan, Saya merasa
buku itu sudahlah tidak penting karena
saya sudah jauh dari bangku pendidikan.
Saya pun menyumbangkan sebagian
hasil penjualan buku saya untuk
memberikan kepada yang tidak mampu
sebagai bentuk penepatan janji ayah
saya pada saya. Saya ingin dia
bahagia di alam sana dan menyadari
bahwa janjinya kepada saya telah
terpenuhi.
Ibu saya adalah orang yang paling
berpengaruh dalam hidup saya hingga
pada saat ini kebahagiaan saya adalah
untuk memberikan hal paling indah yang
bisa saya berikan kepadanya bersama
adik saya. Dan merekalah cinta terakhir
saya ..
Agnes Davonar.
AYAH
Ayah…
Hal terindah dalam hidupku adalah
nafas yang kau berikan
Ayah……..
Hal terbaik dalam hidupku adalah
kenangan bersamamu
Ayah…….
Hal yang bisa kulakukan terakhir
untukmu hanyalah sebuah puisi ini
Kenanglah semua yang pernah ada
dalam hidup kita
Karena hanya itulah tali yang mengikat
hubungan kita
Apapun yang terjadi dalam hidupku
kelak
Kau adalah pencipta langkahku
Sekarang dan selamanya.
>>  Saya ambil dari postingan teman di
salah satu grup

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates