Selasa, 27 Agustus 2013

Rumah Isteri-Isteri Nabi SAW

Ketika rombongan keluarga Nabi SAW dan
Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. sampai di
Madinah, ketika itu Rasulullah SAW sedang
membangun masjid dan ruangan-ruangan
di sekeliling masjid itu. Lalu Nabi SAW
menempatkan mereka di sebuah rumah
milik Haritsah bin Nu'man ra. Rasulullah
SAW menyempurnakan pernikahannya
dengan 'Aisyah di ruangan itu. Dan
Rasulullah SAW pun dikuburkan di tempat
yang sama. Haritsah bin Nu'man memiliki
beberapa rumah di sekitar masjid Nabawi.
Apabila Rasulullah SAW menikahi
seseorang, maka Haritsah akan pindah
dari rumahnya demi beliau, sehingga
akhirnya semua rumahnya digunakan
untuk Rasulullah SAW dan istri-istri beliau.
Nabi SAW membuat pintu masuk ke
masjid meialui pintu kamar 'Aisyah.
Sehingga diriwayatkan bahwa ketika beliau
sedang beri'tikaf, beliau nienjengukkan
kepalanya dari masjid lewat pintu 'Aisyah.
lalu 'Aisyah mencuci kepala beliau
sementara dia sedang haid.
Setelah perombakan demi perombakan,
akhirnya rumah para istri Nabi SAW harus
digusur pada masa Walid bin Abdul Malik.
Abdullah bin Yazid berkata tentang
kejadian penggusuran itu, "Aku melihat
rumah-rumah istri Rasulullah SAW ketika
dihancurkan oleh Umar bin Abdul Aziz
pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul
Malik. Rumah-rumah itu disatukan dengan
masjid. Rumah-rumah itu terbuat dari
bata kering, dan ruangan-ruangannya
dibuat dari batang pohon kurma yang
disatukan dengan lumpur. Ada sembilan
rumah dengan kamar-kamarnya. Rumah
itu dimulai dari rumah 'Aisyah dengan
pintu yang berhadapan dengan pintu
kamar Rasulullah SAW, sampai rumah
Asma' binti Hasan. Aku melihat rumah
Ummu Salamah dan ruangan-ruangannya
terbuat dari bata. Cucu laki-lakinya
berkata, "Ketika Rasulullah SAW
menyerang Dumatut jandal, Ummu
Salamah membangun ruangan dengan
bata. Ketika Rasulullah SAW datang dan
melihat bata itu, beliau masuk menemui
Ummu Salamah rha. dan bertanya,
bangunan apa ini?' Dia menjawab, 'Ya
Rasulullah SAW, aku ingin menghalangi
pandangan orang'. Beliau SAW berkata,
'Wahai Ummu Salamah, hal terburuk bagi
seorang Muslim dalam membelanjakan
uangnya adalah untuk bangunan.'
Di antara makam dan mimbar, terdapat
kamar-kamar istri Rasulullah SAW yang
terbuat dari batang pohon kurma dengan
pintu-pintunya yang ditutupi dengan kain
wol hitam. Dan pada hari surat Walid bin
Abdul Malik dibacakan, yang
memerintahkan agar kamar, kamar istri-
istri Rasulullah SAW tersebut disatukan
dengan masjid Nabi, banyak orang yang
menangis kehilangan. Sa'id bin Musayab
rah.a. juga bercerita tentang hari itu,
'Demi Allah, aku berharap bahwa kamar-
kamar itu dibiarkan sebagaimana adanya,
sehingga orang-orang Madinah dan para
pengunjung dari jauh bisa melihat seolah-
olah Rasulullah SAW masih hidup. Hal itu
termasuk bagian dari hal-hal yang akan
memberi semangat kepada umat untuk
menahan diri dari mencari dan
menyibukkan diri atas sesuatu yang tidak
berguna di dunia ini'.
lmran bin Abi Anas berkata, 'Di antara
rumah-rumah itu ada empat buah rumah
yang terbuat dari bata dengan kamar-
kamar dari pohon kurma. Ada lima rumah
dari batang pohon kurma dilapisi lumpur
tanpa bata. Aku mengukur gordennya dan
mendapati ukurannya tiga kali satu cubit,
dan areanya itu sedemikian, lebih atau
kurang. Sedangkan mengenai tangisan,
aku bisa mengingat kembali diriku pada
sebuah perkumpulan yang dihadiri
sebagian sahabat Rasulullah SAW,
termasuk Abu Salamah bin Abdurrahman,
Abu Umamah bin Sahal, dan Kharijah bin
Zaid. Mereka menangis sampai janggut
mereka basah oleh air mata. Tentang hari
itu Abu Umamah berkata, 'Seandainya
mereka membiarkan dan tidak
menghancurkannya sehingga orang-orang
bisa menahan diri dari membangun
bangunan dan mencukupkan dengan apa
yang Allah ridhai pada Rasul-Nya
walaupun kunci harta dunia di tangan
beliau.'

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates