Minggu, 18 November 2012

Kisah 25 Nabi dan Rasul - Nabi Zakaria AS -

baiklah kali ini kita akan membahas
kisah Nabi Zakaria AS waktu zaman
rasul dulu..
Nah ni kisah nabi dan rasul
kita..moga ni brmanfaat ya..
Masa yang dialami oleh Nabi Zakaria
adalah masa yang aneh di mana
banyak hal yang berlawanan yang
berhadap-hadapan dan saling
bertentangan serta terlibat
pertarungan yang tidak pernah
padam. Keimanan kepada Allah SWT
bercahaya di mesjid yang besar di
Baitul Maqdis, sedangkan
kebohongan memenuhi pasar-pasar
Yahudi yang bersebelahan dengan
mesjid itu. Sudah menjadi tradisi
dunia bahwa segala sesuatu yang
bertentangan mesti saling
berhadapan pada: kebaikan dengan
kejahatan, cahaya dengan kegelapan,
kebenaran dengan kebohongan, para
nabi dengan para pembangkang.
Alhasil, segala sesuatu berhadapan
untuk mempertahankan kehidupan.
Di masa yang kuno ini terdapat
seorang nabi dan seorang alim yang
besar. Nabi yang dimaksud adalah
Zakaria sedangkan seorang alim
besar yang Allah SWT memilihnya
untuk salat di tengah-tengah manusia
adalah Imran. Imran adalah seorang
suami dan istrinya sangat berharap
untuk melahirkan anak. Waktu pagi
menyelimuti kota, keluarlah istri
Imran untuk memberikan makan
kepada burung dan ia melihat
pamandangan yang ada di sekitarnya
dan mulai merenungkannya. Di sana
terdapat seekor burung yang
memberi makan anaknya dengan
cara menyuapinya dan memberinya
minum. Burung itu melindungi
anaknya di bawah sayapnya karena
khawatir dari kedinginan. Ketika
melihat pemandangan itu, istri
Imran berharap agar Allah SWT
memberinya anak. Ia mengangkat
tangannya dan mulai berdoa agar
Allah SWT menganugerahinya
seorang anak lelaki. Allah SWT
mengabulkan doanya dan pada suatu
hari ia merasa bahwa ia sedang
hamil lalu kegembiraan
menyelimutinya dan ia bersMikur
kepada Allah SWT:
"(Ingatlah) ketika istri Imran
berkata: 'Ya Tuhanhu, sesungguhnya
aku telah menazarkan kepada
Engkau anak yang dalam
kandunganku menjadi anak yang
saleh dan berkhidmat (di Baitil
Maqdis). Karena itu terimalah
(nazar) itu dariku. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.'" (QS. Ali
'Imran: 35)
Ia bernazar agar anaknya menjadi
seorang pembantu di mesjid
sepanjang hidupnya yang mengabdi
kepada Allah SWT dan mengabdi
kepada rumah-Nya, yaitu masjid.
Lalu tibalah hari kelahiran. Istri
Imran melahirkan seorang anak
perempuan. Istri itu merasa terkejut
karena ia menginginkan seorang
anak lelaki yang dapat mengabdi
untuk mesjid dan beribadah di
dalamnya. Ketika ia melihat bahwa
anaknya seorang perempuan, maka
ia tetap menjalankan nazarnya,
meskipun anak lelaki bukan seperti
anak perempuan:
"Maka tatkala istri Imran melahirkan
anaknya, dia pun berkata: 'Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku
melahirkannya seorang anak
perempuan; dan Allah lebih
mengetahui apa yang dilahirkannya
itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti
anak perempuan. Sesungguhnya ahu
telah menamai dia Maryam." (QS. Ali
Imran: 36)
Allah SWT mendengar doa istri
Imran; Allah SWT mendengar apa
yang kita ucapkan dan apa yang kita
bisikkan dalam diri kita, bahkan apa
yang kita inginkan untuk kita
ucapkan dan kita tidak
melakukannya. Semua itu diketahui
oleh Allah SWT. Allah SWT
mendengar bahwa istri Imran
memberitahu-Nya bahwa ia
melahirkan anak perempuan dan
Allah SWT lebih mengetahui tentang
anak yang dilahirkannya. Allah SWT-
lah yang memilihkan jenis kelamin
anak yang lahir di mana Dia
menciptakan anak laki-laki atau
perempuan. Allah SWT mendengar
bahwa istri Imran berdoa kepada-
Nya agar Dia menjaga anak
perempuan ini yang dinamakan
Maryam dan juga menjaga
keturunannya dari setan yang
terkutuk:
"Dan aku mohon perlindungan
untuknya serta anak-anak
keturunannya kepada
(pemeliharaan) Engkau dari setan
yang terkutuk. maka Tuhannya
menerimanya (sebagai nazar)
dengan penerimaan yang baik, dan
mendidiknya dengan pendidikan
yang baik dan Allah menjadikan
Zakaria pemeliharanya." (QS. Ali
'Imran: 36- 37)
Allah SWT mengkabulakn doa istri
Imran dan ibu Maryam. Allah SWT
menyambut Maryam dengan
penyambutan yang baik dan
memberinya keturunan yang baik.
Allah SWT berkehendak melalui
rahmat-Nya untuk menjadikan
perempuan ini sebagai wanita
terbaik di muka bumi dan
menjadikan ibu dari seorang nabi
yang kelahirannya merupakan
mukjizat terbesar seperti kelahiran
Nabi Adam. Nabi Adam lahir tanpa
seorang ayah atau ibu, sedangkan
Nabi Isa lahir tanpa seorang ayah.
Nabi Isa berasal dari ibu yang suci
yang belum menikah, yang belum
disentuh oleh manusia.
Mula-mula kelahiran Maryam
mendatangkan sedikit problem.
Imran telah mati sebelum kelahiran
Maryam dan para ulama di zaman
itu dan para pembesar ingin
mendidik Maryam. Setiap orang
berlomba-lomba untuk mendapatkan
kemuliaan ini, yaitu mendidik
seorang perempuan dari seorang
lelaki besar vang mereka hormati.
Zakaria berkata: "Biarkan aku yang
mengasuhnya karena ia adalah
kerabat dekatku. Istriku adalah
bibinya dan aku adalah seorang Nabi
dari umat ini. Aku lebih utama
daripada kalian untuk
mengasuhnya." Lalu para ulama dan
para guru berkata: "Mengapa tidak
seorang di antara kami yang
mengasuhnya. Kami tidak akan
membiarkan engkau mendapatkan
keutamaan ini tanpa persetujuan
dari kami." Hampir saja mereka
berselisih dan bertarung kalau
seandainya mereka tidak
menyepakati diadakannya undian.
Yakni, seseorang yang mendapatkan
undian, maka itulah yang akan
mengasuh Maryam.
Diadakanlah undian. Maryam
diletakkan di atas tanah dan
diletakkan di sebelahnya pena-pena
orang-orang yang ingin
mengasuhnya. Kemudian mereka
menghadirkan anak kecil lalu anak
kecil itu mengeluarkan pena Zakaria.
Zakaria berkata: "Allah SWT
memutuskan agar aku
mengasuhnya." Para ulama dan para
Syekh berkata: "Tidak, undian harus
dilakukan tiga kali." Mereka mulai
berpikir tentang undian yang kedua.
Setiap orang mengukir namanya di
atas pena kayu dan mereka berkata,
kita akan melemparkan pena-pena
kita di sungai, maka siapa yang
penanya menantang arus, itulah
yang menang:
"Padahal kamu tidak hadir beserta
mereka, ketika mereka
melemparkan anak-anak panah
mereka (untuk mengundi) siapa di
antara mereka yang akan
memelihara Maryam. Dan kamu
tidak hadir di sisi mereka ketika
mereka bersengketa." (QS. Ali
'Imran: 44)
Mereka pun melemparkan pena-
pena mereka di sungai sehingga
pena-pena itu berjalan bersama
arus, kecuali pena Zakaria yang
menantang arus. Zakaria merasa
bahwa mereka akan puas tetapi
mereka bersikeras untuk
mengadakan undian yang ketiga kali.
Mereka berkata: "Kita akan
melemparkan pena-pena kita di
sungai. Pena yang berjalan bersama
arus, maka itulah yang akan
mengasuh Maryam." Mereka pun
melemparkan pena-pena mereka
dan semua berjalan menantang arus,
kecuali pena Zakaria. Akhirnya,
mereka menyerah kepada Zakaria
dan mereka menyerahkan anak itu
kepadanya agar Zakaria
mengasuhnya. Nabi Zakaria mulai
mengasuh Maryam dan mendidiknya
serta menghormatinya sampai ia
dewasa. Maryam memiliki tempat
khusus di dalam mesjid. Ia
mempunyai suatu mihrab yang di
situ ia beribadah. Jarang sekali ia
meninggalkan tempatnya. Ia selalu
beribadah dan salat di dalamnya
serta berzikir dan bersyukur dan
menuangkan cintanya kepada Allah
SWT. Terkadang Zakaria
mengunjunginya di mihrab. Tiba-
tiba, pada suatu hari Zakaria
menemuinya dan ia melihat sesuatu
yang mencengangkan. Saat itu
musim panas tetapi Nabi Zakaria
menemui di tempat Maryam buah-
buahan musim dingin, dan pada
kesempatan yang lain ia menemui
buah-buahan musim panas
sedangkan saat itu musim dingin.
Zakaria bertanya kepada Maryam:
"Darimana datangnya rezeki ini?"
Maryam menjawab: "Bahwa itu
berasal dari Allah SWT."
Pemandangan seperti ini berulang
lebih dari sekali:
"Setiap Zakaria masuk menemui
Maryam di mihrab, ia dapati
makanan di sisinya." (QS. Ali 'Imran:
37)
Nabi Zakaria adalah seorang tua dan
rambutnya sudah dikelilingi uban. Ia
merasa bahwa tidak lama lagi
hidupnya akan berakhir dan istrinya,
bibi Maryam, adalah seseorang
wanita tua sepertinya yang belum
melahirkan seseorang pun dalam
hidupnya karena ia wanita yang
mandul. Nabi Zakaria menginginkan
agar ia mendapatkan seorang anak
laki-laki yang akan mewarisi ilmunya
dan akan menjadi nabi yang dapat
membimbing kaumnya dan
berdakwah kepada mereka untuk
mengikuti Kitab Allah SWT.
Zakaria tidak menyampaikan
keinginan ini kepada seseorang pun,
bahkan kepada istrinya, tetapi Allah
SWT mengetahuinya sebelum pikiran
itu disampaikan. Pada pagi itu
Zakaria menemui Maryam di
mihrabnya, lalu ia mendapati buah-
buahan yang sebenarnya sudah tidak
musim. Zakaria bertanya kepada
Maryam:
"Zakaria berkata: "Hai Maryam dari
mana kamu memperoleh (makanan)
ini?" Maryam menjawab: "Makanan
itu dari sisi Allah." Sesungguhnya
Allah memberi rezeki kepada siapa
yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
Di sanalah Zakaria berdoa kepada
Tuhannya." (QS. Ali 'Imran: 37-38)
Zakaria berkata pada dirinya Maha
Suci Allah SWT dan Dia Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Lalu kerinduan
mulai menyelimuti hatinya dan ia
mulai menginginkan keturunan. Nabi
Zakaria berdoa kepada Tuhannya:
"(Yang dibacakan ini adalah)
penjelasan tentang rahmat Tuhan
kamu kepada hamba-Nya Zakaria,
yaitu tatkala ia berdoa kepada
Tuhannya dengan suara yang
lembut. Ia berkata: 'Ya Tuhanku,
sesungguhnya tulangku telah lemah
dan kepalaku telah ditumbuhi uban,
dan aku belum pernah kecewa dalam
berdoa kepada Engka u, ya Tuhanku.
Dan sesungguhnya aku khawatir
terhadap mawaliku sepeningalku,
sedang istriku adalah seseorang yang
mandul, maka anugerahilah aku dari
sisi Engkau seorang putra, yang akmi
mewarisi aku dan mewarisi sebagian
keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya
Tuhanku, seorangyang diridahi.
" (QS. Maryam: 2-6)
Nabi Zakaria meminta kepada
Penciptanya tanpa mengangkat suara
keras-keras agar Dia memberinya
seorang lelaki yang mewarisi
kenabian dan hikmah serta
keutamaan dan ilmu. Nabi Zakaria
khawatir kaumnya akan tersesat
setelahnya di mana tidak ada seorang
nabi setelahnya. Allah SWT
mengkabulkan doa Zakaria. Belum
lama Nabi Zakaria berdoa kepada
Allah SWT hingga malaikat
memanggilnya saat ia salat di
mihrab:
"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami
memberi kabar gembira kepadamu
akan (memperoleh) seorang anak
yang namanya Yahya, yang
sebelumnya Kami belum pernah
menciptakan orang yang serupa
dengan dia." (QS. Maryam: 7)
Zakaria kaget dengan berita ini,
bagaimana ia dapat memiliki seorang
anak. Karena saking gembiranya
Zakaria sangat terguncang dan
dengan penuh keheranan ia
bertanya:
"Ya Tuhanku, bagaimana akan ada
anak bagiku, padahal istriku adalah
seorang yang mandul dan aku
(sendiri) sesungguhnya sudah
mencapai umur yang sangat
tua." (QS. Maryam: 8)
Ia heran bagaimana ia dapat
melahirkan sementara ia sudah tua
dan istrinya pun wanita yang
mandul:
"Tuhan berfirman: 'Demikianlah.'
Tuhan berfirman: 'Hal itu adalah
mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya
telah Aku ciptakan kamu sebelum itu,
padahal kamu (di waktu itu) belum
ada sama sekali." (QS. Maryam; 9)
Para malaikat memberitahunya
bahwa ini terjadi karena kehendak
Allah SWT dan kehendak-Nya pasti
terlaksana. Tidak ada sesuatu pun
yang sulit bagi Allah SWT. Segala
sesuatu yang diinginkan di alam
wujud ini pasti terjadi. Allah SWT
telah menciptakan Zakaria
sebelumnya dan beliau pun
sebelumnya tidak pernah ada. Segala
sesuatu diciptakan Allah SWT hanya
dengan kehendak-Nya:
"Sesungguhnya perintah-Nya apabila
Dia menghendaki sesuatu hanyalah
herkata kepadanya: 'Jadilah!', maka
jadilah ia. " (QS. Yasin: 82)
Hati Nabi Zakaria dipenuhi rasa
syukur kepada Allah SWT dan ia pun
memuji-Nya. Lalu ia meminta
kepada Allah SWT agar memberinya
tanda-tanda:
"Zakaria berkata: Ya Tuhanku,
berilah suatu tanda.' Tuhan
berfirman: 'Tanda bagimu adalah
bahwa kamu tidak dapat bercakap-
cakap dengan manusia selama tiga
malam, padahal kamu sehat.' Maka ia
keluar dari mihrab menuju kaumnya,
lalu ia memberi isyarat kepada
mereka; hendaklah kamu bertasbih
di waktu pagi dan petang." (QS.
Maryam: 10-11)
Allah SWT memberitahunya bahwa
akan terjadi tiga hari di mana di
dalamnya ia tidak mampu berbicara,
padahal saat itu ia sehat-sehat saja
tidak sakit. Jika hal ini terjadi
padanya, maka hendaklah ia yakin
bahwa istrinya hamil dan bahwa
mukjizat Allah SWT benar-benar
terwujud. Kemudian hendaklah saat
itu ia berbicara kepada manusia
melalui isyarat dan banyak bertasbih
kepada Allah SWT di waktu pagi dan
sore.
Zakaria keluar pada suatu hari
kepada manusia dan hatinya
dipenuhi dengan syukur. Ia ingin
berbicara dengan mereka namun ia
mengetahui bahwa ia tidak mampu
berbicara. Zakaria mengetahui
bahwa mukjizat Allah SWT telah
terwujud lalu ia mengisyaratkan
kepada kaumnya agar mereka
bertasbih kepada Allah SWT di waktu
pagi dan sore. Ia pun selalu
bertasbih kepada Allah SWT dalam
hatinya. Zakaria merasakan
kegembiraan yang sangat dalam.
Malaikat memberitahunya tentang
kelahiran seorang anak lelaki yang
Allah SWT menamakannya Yahya.
Untuk pertama kalinya kita di
hadapan seorang anak yang ayahnya
tidak memberikan nama kepadanya
dan ibunya pun tidak memilihkan
nama untuknya, tetapi Allah SWT-lah
yang memberinya nama. Dengan
kemuliaan yang agung ini, Allah SWT
menyampaikan berita gembira
kepada Zakaria bahwa anaknya
Yahya akan membenarkan kalimat
Allah SWT dan akan menjadi seorang
yang mulia dan seorang Nabi dari
orang-orang yang saleh.
Zakaria gemetar, karena saking
gembiranya. Air matanya mulai
berlinangan dan jenggotnya yang
putih mulai basah. Ia salat kepada
Allah SWT sebagai tanda syukur atas
pengkabulan doanya dan kelahiran
Yahya.
sekian kisah Nabi Zakaria AS
semoga bermanfaat.

Kisah 25 Nabi dan Rasul - Nabi Yunus AS -

baiklah kali ini kita akan membahas
mengenai kisah Nabi Yunus AS
pada zaman rasul dulu. nah moga
bermanfaat ya, ni kisah dari nabi and
rasul kita yunus AS..
Beliau adalah Nabi yang mulia yang
bemama Yunus bin Mata. Nabi
Muhammad saw berkata: "Janganlah
kalian membanding-bandingkan aku
atas Yunus bin Mata."
Mereka menamakannya Yunus, Dzun
Nun, dan Yunan. Beliau adalah
seorang Nabi yang mulia yang diutus
oleh Allah SWT kepada kaumnya.
Beliau menasihati mereka dan
membimbing mereka ke jalan
kebenaran dan kebaikan; beliau
mengingatkan mereka akan
kedahsyatan hari kiamat dan
menakut-nakuti mereka dengan
neraka dan mengiming-imingi
mereka dengan surga; beliau
memerintahkan mereka dengan
kebaikan dan mengajak mereka
hanya menyembah kepada Allah
SWT.
Nabi Yunus senantiasa menasihati
kaumnya namun tidak ada seorang
pun yang beriman di antara mereka.
Datanglah suatu hari kepada Nabi
Yunus di mana beliau merasakan
keputusasaan dari kaumnya. Hatinya
dipenuhi dengan perasaan marah
pada mereka namun mereka tidak
beriman. Kemudian beliau keluar
dalam keadaan marah dan
menetapkan untuk meninggalkan
mereka. Allah SWT menceritakan hal
itu dalam firman-Nya:
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun
(Yunus), ketika ia pergi dalam
keadaan marah, lalu ia menyangka
bahwa Kami tidak akan
mempersempitnya (menyulitkannya)
maka ia menyeru dalam keadaan
yang sangat gelap: 'Bahwa tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah)
selain Engkau. Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku termasuk orang-
orang yang lalim.'" (QS. al-Anbiya':
87)
Tidak ada seorang pun yang
mengetahui gejolak perasaan dalam
diri Nabi Yunus selain Allah SWT.
Nabi Yunus tampak terpukul dan
marah pada kaumnya. Dalam
keadaan demikian, beliau
meninggalkan kaumnya. Beliau pergi
ke tepi laut dan menaiki perahu yang
dapat memindahkannya ke tempat
yang lain. Allah SWT belum
mengeluarkan keputusan-Nya untuk
meninggalkan kaumnya atau
bersikap putus asa dari kaumnya.
Yunus mengira bahwa Allah SWT
tidak mungkin menurunkan
hukuman kepadanya karena ia
meninggalkan kaumnya. Saat itu
Nabi Yunus seakan-akan lupa bahwa
seorang nabi diperintah hanya untuk
berdakwah di jalan Allah SWT.
Namun keberhasilan atau tidak
keberhasilan dakwah tidak menjadi
tanggungjawabnya. Jadi, tugasnya
hanya berdakwah di jalan Allah SWT
dan menyerahkan sepenuhnya
masalah keberhasilan atau
ketidakberhasilannya terhadap Allah
SWT semata.
Terdapat perahu yang berlabuh di
pelabuhan kecil. Saat itu matahari
tampak akan tenggelam. Ombak
memukul tepi pantai dan
memecahkan batu-batuan. Nabi
Yunus melihat ikan kecil sedang
berusaha untuk melawan ombak
namun ia tidak mengetahui apa yang
dilakukan. Tiba-tiba datanglah
ombak besar yang memukul ikan itu
dan menyebabkan ikan itu
berbenturan dengan batu. Melihat
kejadian ini, Nabi Yunus merasakan
kesedihan. Nabi Yunus berkata
dalam dirinya: "Seandainya ikan itu
bersama ikan yang besar barangkali
ia akan selamat. Kemudian Nabi
Yunus mengingat-ingat kembali
keadaannya dan bagaimana beliau
meninggalkan kaumnya. Akhirnya,
kemarahan dan kesedihan beliau
bertambah.
Nabi Yunus pun menaiki perahu
dalam keadaan guncang jiwanya.
Beliau tidak mengetahui bahwa
beliau lari dari ketentuan Allah SWT
menuju ketentuan Allah SWT yang
lain; beliau tidak membawa makanan
dan juga kantong yang berisi bawaan
atau perbekalan, dan tidak ada
seorang pun dari teman-temannya
yang menemaninya; beliau benar-
benar sendirian; beliau
melangkahkan kakinya di atas
permukaan perahu.
Si nahkoda perahu bertanya
kepadanya: "Apa yang engkau
inginkan?" Mendengar pertanyaan
itu, Nabi Yunus pun bangkit: "Saya
ingin untuk bepergian dengan
perahu-perahu kalian. Apakah kita
berlayar dalam waktu yang lama?"
Nabi Yunus menampakkan suara
yang penuh kemarahan, rasa takut,
dan kegelisahan. Nahkoda itu berkata
sambil mengangkat kepalanya: "Kita
akan berlayar meskipun air tampak
sedang pasang." Nabi Yunus berkata
dengan mencoba sabar dan
menyembunyikan kegelisahannya:
"Tidakkah engkau mendahului agar
jangan sampai pasang itu terjadi
wahai tuanku?" Si nahkoda berkata:
"Laut kita biasanya terkena pasang,
maka ia akan segera mereda ketika
melihat seorang musafir yang
mulia." Yunus bertanya: "Aku akan
pergi bersama kalian dan berapa
ongkos perjalanan?" Si nahkoda
menjawab: "Kami tidak menerima
ongkos selain emas." Yunus berkata:
"Tidak jadi masalah."
Nahkoda itu memperhatikan Nabi
Yunus. Ia adalah seorang yang
berpengalaman di mana ia sering
mondar-mandir dari satu pelabuhan
ke pelabuhan yang lain. Seringnya ia
mengunjungi suatu tempat ke tempat
yang lain menjadikannya seorang
lelaki yang mampu menangkap
perasaan manusia. Nahkoda itu
merasakan dan mengetahui bahwa
Nabi Yunus lari dari sesuatu.
Nahkoda itu membayangkan bahwa
Nabi Yunus melakukan suatu
kesalahan tetapi ia tidak berani
untuk mengungkapkan kesalahan
kepada pelakunya kecuali jika
pelakunya seorang yang bangkrut. Ia
meminta kepada Nabi Yunus untuk
membayar ongkos sebanyak tiga kali
lipat dari vang biasa dibayar musafir.
Nabi Yunus saat itu merasakan
kesempitan dalam dadanya dan
diliputi dengan kemarahan yang
keras dan keinginan kuat untuk
meninggalkan negerinya sehingga ia
pun memberikan apa yang diminta
oleh si nahkoda.
Nahkoda itu memperhatikan
kepingan-kepingan emas yang ada di
tangannya dan ia menggigit
sebagaiannya dengan giginya.
Barangkali ia akan menemukan
potongan emas yang palsu namun ia
tidak menemukannya. Nabi Yunus
hanya berdiri menyaksikan semua
itu sementara dadanya tampak
terombang-ambing: terkadang naik
dan terkadang turun laksana ayunan.
Nabi Yunus berkata: "Tuanku
tentukan bagiku kamarku. Aku
tampak letih dan ingin istirahat
sebentar." Si nahkoda berkata:
"Memang itu tampak di raut
wajahmu. Itu kamarmu," sambil ia
menunjuk dengan tangannya.
Kemudian Nabi Yunus
membaringkan diri di atas kasur dan
beliau berusaha untuk tidur tetapi
usahanya itu sia-sia. Adalah gambar
ikan kecil yang hancur berbenturan
dengan batu menyebabkan beliau
tidak dapat tidur dengan tenang.
Nabi Yunus merasakan bahwa atap
kamar akan jatuh menimpa dirinya.
Akhirnya, Nabi Yunus tidur di atas
kasurnya di mana kedua bola
matanya berputar-putar di atas atap
kamar tetapi pandangan-
pandangannya yang gelisah itu tidak
menemukan tempat perlindungan.
Tempat tinggalnya di kamar itu dan
atapnya dan sisi-sisinya tampak
semuanya akan runtuh. Nabi Yunus
pun mulai mengeluh dan berkata:
"Demikian juga hatiku yang
tergantung dalam jiwaku."
Demikianlah, terjadi suatu
pergulatan penderitaan yang hebat
dalam diri Nabi Yunus saat ia
terbaring di atas ranjangnya.
Penderitaan yang keras cukup
memberatkannya sehingga beliau
pun bangkit kembali dari tempat
tidurnya tanpa sebab yang dapat
dipahami. Dan tibalah waktu pasang.
Perahu melemparkan tali-talinya.
Kemudian perahu itu berjalan
sepanjang siang dan ia memecah
airnya dengan tenang, dan angin pun
bertiup padanya dengan sangat
lembut dan baik. Lalu kegelapan
menyelimuti perahu itu dan tiba-tiba
lautan pun berubah. Bertiuplah
angin yang cukup kencang yang
sangat mengerikan yang nyaris
menghancurkan perahu dan
bergolaklah ombak yang cukup
dahsyat laksana orang yang
kehilangan akalnya. Ombak itu
meninggi bagaikan gunung dan
menurun bagaikan lembah.
Mulailah gelombang ombak menyapu
permukaan perahu sehingga para
awak perahu itu pun mulai terkena
air. Dan di belakang perahu itu
terdapat ikan paus yang besar yang
mulai mengintai. Ia membuka
mulutnya. Kemudian terdapat
perintah kepada ikan paus itu untuk
bergerak menuju permukaan laut.
Ikan paus itu menaati perintah dari
Allah SWT dan ia segera menuju
permukaan laut. Ia mulai mengikuti
perahu itu sebagaimana perintah
yang diterimanya. Angin yang keras
tetap bertiup kemudian kepala
perahu mengisyaratkan dengan
tangannya agar beban perahu
dikurangi. Dan angin semakin
bertiup kencang. Sementara itu, Nabi
Yunus merasakan ketakutan. Dalam
tidurnya beliau melihat segala
sesuatu berguncang di kamarnya.
Beliau berusaha berdiri tegak, tetapi
tidak mampu. Kemudian kepala
perahu berteriak dan berkata:
"Sungguh angin kencang bertiup
tidak seperti biasanya. Bersama kita
seseorang lelaki yang salah sehingga
karenanya angin ini bertiup dengan
kencang. Kita akan melakukan
undian pada semua awak.
Barangsiapa yang namanya keluar
kami akan membuangnya ke lautan."
Nabi Yunus mengetahui bahwa ini
adalah tradisi dari tradisi-tradisi
yang biasa dilakukan oleh awak
perahu jika mereka menghadapi
angin yang keras. Tetapi saat itu
beliau terpaksa harus meng-ikutinya.
Episode penderitaan Nabi Yunus
akan dimulai. Beliau adalah seorang
Nabi yang mulia tetapi harus tunduk
pada hukum ala berhala yang
menganggap bahwa lautan
mempunyai tuhan. Dengan
kepercayaan itu, mereka meyakini
bahwa bertiupnya angin yang
kencang akibat murka dari tuhan.
Oleh karena itu, harus diadakan
upaya untuk menenangkan dan
memuaskan tuhan-tuhan yang
mereka yakini itu. Nabi Yunus pun
terpaksa mengikuti undian itu. Nama
beliau dimasukkan bersama dengan
nama penumpang lainya, dan
dilakukanlah undian. Yang keluar
justru namanya. Lalu diadakan
undian yang kedua, dan kali ini pun
yang keluar nama Nabi Yunus.
Akhirnya, diadakan undian yang
ketiga. Lagi-lagi yang keluar nama
Nabi Yunus. Kemudian ditetapkan
bahwa Nabi Yunus harus dibuang ke
lautan. Saat itu para awak
penumpang memperhatikan Nabi
Yunus. Nabi Yunus mengetahui
bahwa beliau berbuat kesalahan
ketika meninggalkan kaumnya dalam
keadaan marah. Nabi Yunus mengira
bahwa Allah SWT tidak akan
menurunkan hukuman padanya.
Namun ia dianggap salah karena
meninggalkan kaumnya tanpa izin-
Nya. Allah SWT memberikan
pelajaran kepadanya.
Nabi Yunus berdiri di samping
perahu dan melihat lautan yang
dipenuhi dengan ombak yang
mengerikan. Dunia saat itu gelap dan
di sana tidak ada cahaya bulan.
Bintang-bintang bersembunyi di
balik kegelapan. Warna air tampak
gelap dan hawa dingin menembus
tulang. Alhasil, air menutupi segala
sesuatu. Kemudian nahkoda perahu
berteriak: "Lompatlah wahai musafir
yang misterius." Tiupan angin
semakin kencang. Nabi Yunus
berusaha menjaga keseimbangannya,
dan beliau menampakkan
keberaniannya saat ingin terjun ke
lautan. Nabi Yunus pun terjun dan
berada di permukaan lautan laksana
sampang yang mengambang. Ikan
paus berada di depannya. Ikan itu
mulai tersenyum karena Allah SWT
telah mengirim padanya makanan
malam. Kemudian ikan itu
menangkap Nabi Yunus di tengah-
tengah ombak. Kemudian ikan itu
kembali ke dasar lautan. Ikan itu
kembali dalam keadaaan puas
setelah memenuhi perutnya.
Nabi Yunus sangat terkejut ketika
mendapati dirinya dalam perut ikan.
Ikan itu membawanya ke dasar
lautan dan lautan membawanya ke
kegelapan malam. Tiga kegelapan:
kegelapan di dalam perut ikan,
kegelapan di dasar lautan, dan
kegelapan malam. Nabi Yunus
merasakan bahwa dirinya telah mati.
Beliau mencoba menggerakan panca
inderanya dan anggota tubuhnya
masih bergerak. Kalau begitu, beliau
masih hidup. Beliau terpenjara
dalam tiga kegelapan.
Yunus mulai menangis dan bertasbih
kepada Allah. Beliau mulai
melakukan perjalanan menuju Allah
saat beliau terpenjara di dalam tiga
kegelapan. Hatinya mulai bergerak
untuk bertasbih kepada Allah, dan
lisannya pun mulai mengikutinya.
Beliau mengatakan: "Tiada Tuhan
selain Engkau ya Allah. Wahai Yang
Maha Suci. Sesungguhnya aku
termasuk orang yang menganiaya
diri sendiri." (QS. Hud: 87)
Ketika terpenjara di perut ikan,
beliau tetap bertasbih kepada Allah
SWT. Ikan itu sendiri tampak
kelelahan saat harus berenang cukup
jauh. Kemudian ikan itu tertidur di
dasar lautan. Sementara itu, Nabi
Yunus masih bertasbih kepada Allah
SWT. Beliau tidak henti-hentinya
bertasbih dan tidak henti-hentinya
menangis. Beliau tidak makan, tidak
minum, dan tidak bergerak. Beliau
berpuasa dan berbuka dengan
tasbih. Ikan-ikan yang lain dan
tumbuh-tumbuhan dan semua
makhluk yang hidup di dasar lautan
mendengar tasbih Nabi Yunus .
Tasbih itu berasal dari perut ikan
paus ini. Kemudian semua makhluk-
makhluk itu berkumpul di sekitar
ikan paus itu dan mereka pun ikut
bertasbih kepada Allah SWT. Setiap
dari mereka bertasbih dengan
caranya dan bahasanya sendiri.
Ikan paus yang memakan Nabi Yunus
itu terbangun dan mendengar suara-
suara tasbih begitu riuh dan
gemuruh. Ia menyaksikan di dasar
lautan terjadi suatu perayaan besar
yang dihadiri oleh ikan-ikan dan
hewan-hewan lainya, bahkan batu-
batuan dan pasir semuanya bertasbih
kepada Allah SWT dan ia pun tidak
ketinggalan ikut serta bersama
mereka bertasbih kepada Allah SWT.
Dan ia mulai menyadari bahwa ia
sedang menelan seorang Nabi. Ikan
paus itu merasakan ketakutan tetapi
ia berkata dalam dirinya mengapa
aku takut? Bukankah Allah SWT yang
memerintahkan aku untuk
memakannya. Nabi Yunus tetap
tinggal di perut ikan selama
beberapa waktu yang kita tidak
mengetahui batasannya. Selama itu
juga beliau selalu memenuhi hatinya
dengan bertasbih kepada Allah SWT
dan selalu menampakkan penyesalan
dan menangis: "Tiada Tuhan selain
Engkau ya Allah Yang Maha Suci.
Sesungguhnya aku termasuk orang
yang menganiaya diri sendiri." Allah
SWT melihat ketulusan taubat Nabi
Yunus. Allah SWT mendengar
tasbihnya di dalam perut ikan.
Kemudian Allah SWT menurunkan
perintah kepada ikan itu agar
mengeluarkan Yunus ke permukaan
laut dan membuangnya di suatu
pulau yang ditentukan oleh Allah
SWT.
Ikan itu pun menaati perintah Ilahi.
Tubuh Nabi Yunus merasakan
kepanasan di perut ikan. Beliau
tampak sakit, lalu matahari bersinar
dan menyentuh badannya yang
kepanasan itu. Beliau berteriak
karena tidak kuatnya menahan rasa
sakit namun beliau mampu menahan
diri dan kembali bertasbih.
Kemudian Allah SWT menumbuhkan
pohon Yaqthin, yaitu pohon yang
daun-daunnya lebar yang dapat
melindungi dari sinar matahari. Dan
Allah SWT menyembuhkannya dan
mengampuninya. Allah SWT
memberitahunya bahwa kalau bukan
karena tasbih yang diucapkannya
niscaya ia akan tetap tinggal di perut
ikan sampai hari kiamat.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Yunus beriar-benar
salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika
ia lari ke kapal yang penuh muatan,
kemudian ia ikut berundi lalu dia
termasuk orang-orang yang kalah
dalam undian. Maka ia ditelan oleh
ihan besar dalam keadaan tercela.
Maka kalau sekiranya ia tidak
termasuk orang-orang yang banyak
mengingat Allah, niscaya ia akan
tetap tinggal di perut ikan itu sampai
hari berbangkit. Kemudian Kami
lemparkan dia ke daerah yang
tandus, sedang ia dalam keadaan
sakit. Dan kami tumbuhkan untuk
dia sebatang pohon dari jenis labu.
Dan Kami utus dia kepada seratus
orang atau lebih. Lalu mereka
beriman, karena itu Kami
anugerahkan kenikmatan hidup
kepada mereka hingga waktu yang
tertentu." (QS. ash-Shaffat: 139-148)
"Dan (ingatlah kisah) Dzunnun
(Yunus), ketika ia pergi dalam
keadaan marah, lalu mereka
menyangka bahwa Kami tidak akan
mempersempitnya
(menyulitkannya), maka ia menyeru
dalam keadaan yang sangat gelap:
'Bahwa tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku
adalah orang-orang yang lalim.'
Maka Kami telah memperkenankan
doanya dan menyelamatkannya dari
kedukaan. Dan demikianlah Kami
selamatkan orang-orang yang
beriman." (QS. al-Anbiya': 87-88)
Kita sekarang ingin membahas
masalah yang menurut ulama
disebut sebagai dosa Nabi Yunus.
Apakah Nabi Yunus melakukan suatu
dosa dalam pengertian yang hakiki,
dan apakah para nabi memang
berdosa? Jawabannya adalah: Para
nabi adalah orang-orang yang
maksum tetapi kemaksuman ini tidak
berarti bahwa mereka tidak
melakukan sesuatu yang menurut
Allah SWT itu pantas mendapatkan
celaan (hukuman). Jadi masalahnya
agak relatif. Menurut orang-orang
yang dekat dengan Allah SWT:
Kebaikkan orang-orang yang baik
dianggap keburukaan bagi al-
Muqarrabin (orang-orang yang
dekat dengan Allah SWT). Ini
memang benar. Sekarang, marilah
kita amati kasus Nabi Yunus. Beliau
meninggalkan desanya yang banyak
dipenuhi oleh orang-orang vang
menentang. Seandainya ini
dilakukan oleh orang biasa atau oleh
orang yang saleh selain Nabi Yunus
maka hal itu merupakan suatu
kebaikan dan karenanya ia diberi
pahala. Sebab, ia berusaha
menyelamatkan agamanya dari kaum
yang durhaka. Tetapi Nabi Yunus
adalah seorang Nabi yang diutus oleh
Allah SWT kepada mereka.
Seharusnya ia menyampaikan
dakwah di jalan Allah SWT dan ia
tidak peduli dengan hasil dakwahnya.
Tugas beliau hanya sekadar
menyampaikan agama. Keluarnya
beliau dari desa itu— dalam
kacamata para nabi—adalah hal
yang mengharuskan datangnya
pelajaran dari Allah SWT dan
hukuman-Nya padanya.
Allah SWT memberikan suatu
pelajaran kepada Yunus dalam hal
dakwah di jalan-Nya. Allah SWT
mengutusnya hanya untuk
berdakwah. Inilah batasan
dakwahnya dan beliau tidak perlu
peduli dengan kaumnya yang tidak
mengikutinya dan karena itu beliau
tidak harus menjadi sedih dan
marah. Nabi Luth tetap tinggal di
kaumnya meskipun selama bertahun-
tahun berdakwah beliau tidak
mendapati seorang pun beriman.
Meskipun demikan, Nabi Luth tidak
meninggalkan mereka. Ia tidak lari
dari keluarganya dan dari desanya.
Beliau tetap berdakwah di jalan
Allah SWT sehingga datang perintah
Allah SWT melalui para malaikat-Nya
yang mengizinkan beliau untuk
pergi. Saat itulah beliau pergi.
Seandainya beliau pergi sebelumnya
niscaya beliau akan mendapatkan
siksaan seperti yang diterima oleh
Nabi Yunus. Jadi, Nabi Yunus keluar
tanpa izin. Lalu perhatikan apa yang
terjadi pada kaumnya. Mereka telah
beriman setelah keluamya Nabi
Yunus. Allah SWT berfirman:
"Dan mengapa tidak ada penduduk
suatu kota yang beriman, lalu
imannya itu bermanfaat kepadanya
selain kaum Yunus? Tatkala mereka
(kaum Yunus itu) beriman, Kami
hilangkan dari mereka azab yang
menghinakan dalam kehidupan
dunia, dan Kami beri kesenangan
kepada mereka sampai waktu yang
tertentu." (QS. Yunus: 98)
Demikianlah, desa Nabi Yunus
beriman. Seandainya ia tetap tinggal
bersama mereka niscaya ia akan
mengetahuinya dan hatinya menjadi
tenang serta kemarahannya akan
menjadi hilang. Tampaknya beliau
tergesa-gesa dan tentu sikap tergesa-
gesa ini berangkat dari keinginannya
agar manusia beriman. Usaha Nabi
Yunus untuk meninggalkan mereka
adalah sebagai ungkapan
kebenciannya kepada mereka atas
ketidakimanan mereka. Maka Allah
SWT menghukumnya dan
mengajarinya bahwa tugas seorang
nabi hanya menyampaikan agama.
Seorang nabi tidak dibebani urusan
keimanan manusia; seorang nabi
tidak bertanggung jawab atas
pengingkaran manusia; dan seorang
nabi tidak dapat memberikan
hidayah (petunjuk) kepada mereka.
sekian dari kisah Nabi Yunus AS
semoga bermanfaat.

Kisah 25 Nabi dan Rasul - Nabi Ilyasa AS -

kali ini kita akan membahas
mengenai kisah Nabi ilyasa AS pada
zaman rasul dulu. nah ni kisah nabi
kita nabi dan rasul ilyasa AS moga
bermanfaat ya...Nabi Ilyasa adalah
anak Akhtub bin 'Ajuz, yang lalu
diangkat anak oleh Nabi Ilyas A.S.
Beliau diangkat oleh Allah menjadi
rasul sebagaimana telah tersebut di
dalam AI Qur'an.
Artinya:
Adapun Ismail, Ilyasa, Yunus dan
Luth, semuanya itu teiah Kami
berikan kepadanya keiebihan
derajatnya di atas umat (di
masanya). (QS. Al An'aam: 86).
Pada zaman Nabi Ilyasa, rakyat
hidup aman dan makmur karena
umatnya selalu patuh kepada
perintah dan ajaran Nabi Ilyasa.
Kemudian setelah Nabi Ilyasa
meninggal dunia, umatnya (Bani
lsrail) meninggalkan hukum Taurat.
Mereka mengambil jalan yang salah,
yang makin hari makin bertambah
kekufuran dan kedurhakaan mereka
kepada Allah, sehingga Allah
melenyapkan nikmat dan kesenangan
dari mereka.
Ia putra dari paman Nabi Ilyas.
Melaksanakan dakwah setelah Nabi
Ilyas wafat. Karenanya dalam
berdakwah ia berpegang pada
syari’at dan metode nabi Ilyas. Al
Qur’an tidak menguraikan tentang
Nabi Ilyasa . Hanya dijelaskan.”Dan
ingatlah akan Ismail, Ilyasa, Dzulkifli.
Semuanya termasuk orang-orang
yang paling baik.”(Q.S. Shaad : 48)
Nabi ini termasuk hamba Allah yang
terbaik. Konon nabi inilah yang
disebut dalam kitab Taurat. Di
antara mukjizatnya adalah
menghidupkan kembali orang yang
telah mati.
Ilyasa adalah rasul dari kalangan
Bani Israel dari garis keturunan yang
sama dengan Musa, Harun serta
Ilyas. Nama Ilyasa disebut dalam
kisah Ilyas, saat rasul itu dikejar-
kejar kaumnya dan bersembunyi di
rumah Ilyasa. Maka besar
kemungkinan Ilyasa juga tinggal di
seputar lembah sungai Yordania.
Ketika Ilyas bersembunyi di
rumahnya, Ilyasa masih seorang
belia. Saat itu ia tengah menderita
sakit. Ilyas membantu
menyembuhkan penyakitnya. Setelah
sembuh, Ilyasa pun menjadi sahabat
Ilyas yang selalu mendampingi untuk
menyeru ke jalan kebaikan. Ilyasa
melanjutkan tugas tersebut begitu
Ilyas meninggal. Ilyasa kemudian
mendapati bahwa manusia ternyata
begitu mudah kembali ke jalan sesat.
Itu terjadi tak lama setelah Ilyas
wafat. Padahal masyarakat lembah
sungai Yordania itu sempat mengikuti
seruan Ilyas agar meninggalkan
pemujaannya pada berhala. Pada
kalangan itulah Ilyasa tak lelah
menyeru ke jalan kebaikan.
Dikisahkan bahwa mereka tetap tak
mau mendengar seruan Ilyasa, dan
mereka kembali menanggung
bencana kekeringan yang luar biasa.
Hikmah yang Terkandung dari Kisah
Nabi Ilyasa'
1. Nabi Ilyasa adalah anak
angkat Nabi Ilyas A.S. Kedua-duanya
itu adalah rasul Allah.
2. Pada zaman Nabi lIyasa,
umat Bani Israil hidup aman dan
makmur, karena mereka adalah
orang-orang yang taat kepada ajaran
Allah yang disampaikan oleh Nabi
lIyasa.
3. Setelah Nabi lIyasa wafat,
umatnya kembali menjadi orang-
orang yang durhaka kepada Allah.
Allah melenyapkan segala ni,kmat
dan kesenangan hid up, akhirnya
mereka mendapat kesengsaraan.
Selanjutnya pada zaman itu lahirlah
Nabi Yunus A.S.
4. Tiap-tiap umat yang
durhaka di muka bumi ini,
didatangkanlah oleh Allah siksaan
kepada mereka dan Allah mengganti
lagi dengan umat yang baru.
demikian kisah dari Nabi ilyasa AS
semoga bermanfaat.

Kisah 25 Nabi dan Rasul - Nabi Ilyas AS -

baiklah kali ini kita akan membahas
mengenai kisah Nabi ilyas AS pada
zaman rasul, nah ni kisah nabi kita
selanjutnya..
moga bermanfaat untuk sobat semua...
Beliau adalah seorang utusan Allah SWT.
Telah terjadi pertentangan antara beliau
dan kaumnya tentang berhala yang
bemama Ba'l. Nabi Ilyas menyeru di
jalan Allah SWT dan mengajak kaumnya
tetapi kaumnya mengabaikannya.
Mereka cenderung kepada Ba'l.
Selesailah halaman kehidupan dunia dan
mereka dihadirkan di hadapan Allah SWT
pada hari kiamat. Allah SWT
menceritakan hal tersebut dalam firman-
Nya:
"Dan sesungguhnya Ilyas termasuk salah
seorang dari rasul-rasul. (Ingatlah)
ketika ia berkata kepada kaumnya:
'Mengapa kamu tidak bertakwa?
Pantaskah kamu menyembah Ba'l dan
kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,
yaitu Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-
bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka
mendustakannya, karena itu mereka
akan diseret (ke neraka), kecuali hamba-
hamba Allah yang dibersihkan (dari
dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas
(pujian yang baik) di halangan orang-
orang yang datang kemudian. (Yaitu)
kesejahteran dilimpahkan atas Ilyas?
Sesungguhnya demikianlah Kami
memberi balasan hepada orang-orang
yang berbuat baik. Sesungguhnya dia
termasuk hamba-hamba Kami yang
beriman." (QS. ash-Shaffat: 123-132)
Hanya ayat-ayat yang pendek ini yang
Allah SWT sebutkan berkaitan dengan
kisah Nabi Ilyas. Dan pendapat yang
paling kuat adalah pendapat yang
menyatakan bahwa Ilyas adalah seorang
Nabi yang bernama Ilya dalam Taurat.
Injil Barnabas mengemukakan nasihat-
nasihat Ilya. Tentu nasihat-nasihat
tersebut tidak begitu terkenal dalam
Taurat. Kami akan menyebutkan nasihat-
nasihat tersebut karena di dalamnya
terdapat hikmah yang dalam dan
ketulusan hati. Pesan tersebut terdapat
dalam injil Barnabas dari ayat 23 sampai
ayat 49. Disebutkan di dalamnya bahwa
"Ilya adalah hamba Allah. Hal ini ditulis
bagi semua orang yang menginginkan
untuk berjalan bersama Allah Pencipta
mereka. Sesungguhnya orang yang suka
untuk banyak belajar maka ia akan
sedikit takut kepada Allah. Karena orang
yang takut kepada Allah maka ia akan
merasa puas untuk mengetahui apa-apa
yang diinginkan Allah saja. Hendaklah
orang-orang yang menginginkan untuk
mengerjakan amal-amal yang saleh
memperhatikan diri mereka karena
seseorang tidak akan memperoleh
manfaat ketika mendapati dunia
mendapatkan keuntungan sementara ia
mendapati kerugian. Selanjutnya,
hendaklah orang yang mengajari orang
lain berusaha untuk lebih baik daripada
orang lain karena tidak akan bermanfaat
suatu nasihat yang diberikan oleh orang
yang tidak mengamalkan apa yang
dikatakannya. Sebab, bagaimana seorang
yang salah dapat memperbaiki
kehidupannya sementara ia mendengar
seorang yang lebih buruk darinya
berusaha untuk mengajarinya. Kemudian
hendaklah orang yang mencari Allah
berusaha lari dari percakapan dengan
manusia karena Musa ketika berada
sendirian di atas gunung Saina' maka
beliau menemukan Allah dan berdialog
dengan-Nya sebagaimana seorang
pecinta berdialog dengan kekasihnya.
Dan hendaklah orang-orang yang
mencari Allah berusaha keluar sekali
setiap tiga puluh kali ke tempat yang
biasa di jadikan perkumpulan oleh
masyarakat dunia. Karena boleh jadi ia
dapat melakukan suatu amal pada satu
hari saja namun dihitung amalnya itu
selama dua tahun, khususnya berkaitan
dengan pekerjaan yang di situ ia mencari
ridha Allah. Hendaklah ketika ia
berbicara tidak melihat ke arah mana
pun kecuali ke arah dua kakinya, dan
ketika ia berbicara hendaklah
mengatakan hal yang penting saja.
Hendaklah ketika ia makan tidak berdiri
dari meja makan dalam keadaan
kekenyangan. Dan hendaklah mereka
berpikir setiap hari karena boleh jadi
mereka tidak akan menemui hari
berikutnya. Dan hendaklah mereka
benar-benar memanfaatkan waktu
mereka sebagaimana mereka selalu
bernafas. Hendaklah satu baju dari kulit
binatang cukup untuk mereka.
Hendaklah mereka setiap malam
berusaha untuk tidur tidak lebih dari dua
jam. Hendaklah mereka berusaha berdiri
di tengah-tengah salat dengan rasa
takut.
Kerjakanlah semua ini dalam rangka
mengabdi kepada Allah SWT dengan
menjunjung tinggi syariat-Nya yang Allah
SWT karuniakan kepada kalian melalui
Nabi Musa. Karena dengan cara seperti
ini, kalian akan menemukan Allah SWT
dan kalian akan merasakan pada setiap
zaman dan tempat bahwa kalian berada
di bawah naungan Allah SWT dan Dia
akan selalu bersama kalian."
Demikianlah apa-apa yang disebut
demikian kisah Nabi ilyas AS semoga
bermanfaat.

Kisah 25 Nabi dan Rasul - Nabi Sulaiman AS -

baiklah kali ini kita akan membahas
kisah Nabi Sulaiman AS pada zaman
rasul, nah ni kisah nabi dan rasul kita
selanjutnya, semoga bermanfaat
untujk kita semua..
Nabi Sulaiman adalah salah seorang
putera Nabi Daud. Sejak ia masih
kanak-kanak berusia sebelas tahun,
ia sudah menampakkan tanda-tanda
kecerdasan, ketajaman otak,
kepandaian berfikir serta ketelitian
di dalam mempertimbangkan dan
mengambil sesuatu keputusan.
Nabi Sulaiman Seorang Juri
Sewaktu Daud, ayahnya menduduki
tahta kerajaan Bani Isra'il ia selalu
mendampinginnya dalam tiap-tiap
sidang peradilan yang diadakan
untuk menangani perkara-perkara
perselisihan dan sengketa yang
terjadi di dalam masyarakat. Ia
memang sengaja dibawa oleh Daud,
ayahnya menghadiri sidang-sidang
peradilan serta menyekutuinya di
dalam menangani urusan-urusan
kerajaan untuk melatihnya serta
menyiapkannya sebagai putera
mahkota yang akan menggantikanya
memimpin kerajaan, bila tiba
saatnya ia harus memenuhi
panggilan Ilahi meninggalkan dunia
yang fana ini. Dan memang
Sulaimanlah yang terpandai di
antara sesama saudara yang bahkan
lebih tua usia daripadanya.
Suatu peristiwa yang menunjukkan
kecerdasan dan ketajaman otaknya
iaitu terjadi pada salah satu sidang
peradilan yang ia turut
menghadirinya. dalam persidangan
itu dua orang datang mengadu
meminta Nabi Daud mengadili
perkara sengketa mereka, iaitu
bahawa kebun tanaman salah
seorang dari kedua lelaki itu telah
dimasuki oleh kambing-kambing
ternak kawannya di waktu malam
yang mengakibatkan rusak binasanya
perkarangannya yang sudah
dirawatnya begitu lama sehingga
mendekati masa menuainya. Kawan
yang diadukan itu mengakui
kebenaran pengaduan kawannya dan
bahawa memang haiwan
ternakannyalah yang merusak-
binasakan kebun dan perkarangan
kawannya itu.
Dalam perkara sengketa tersebut,
Daud memutuskan bahawa sebagai
ganti rugi yang dideritai oleh pemilik
kebun akibat pengrusakan kambing-
kambing peliharaan tetangganya,
maka pemilik kambing-kambing itu
harus menyerahkan binatang
peliharaannya kepada pemilik kebun
sebagai ganti rugi yang disebabkan
oleh kecuaiannya menjaga binatang
ternakannya. Akan tetapi Sulaiman
yang mendengar keputusan itu yang
dijatuhkan oleh ayahnya itu yang
dirasa kurang tepat berkata kepada
si ayah: "Wahai ayahku, menurut
pertimbanganku keputusan itu
sepatut berbunyi sedemikian :
Kepada pemilik perkarangan yang
telah binasa tanamannya
diserahkanlah haiwan ternak
jirannya untuk dipelihara, diambil
hasilnya dan dimanfaatkan bagi
keperluannya, sedang
perkarangannya yang telah binasa
itu diserahkan kepada tetangganya
pemilik peternakan untuk dipugar
dan dirawatnya sampai kembali
kepada keadaan asalnya, kemudian
masing-masing menerima kembali
miliknya, sehingga dengan cara
demikian masing-masing pihak tidak
ada yang mendapat keuntungan atau
kerugian lebih daripada yang
sepatutnya."
Kuputusan yang diusulkan oleh
Sulaiman itu diterima baik oleh
kedua orang yang menggugat dan
digugat dan disambut oleh para
orang yang menghadiri sidang
dengan rasa kagum terhadap
kecerdasan dan kepandaian
Sulaiman yang walaupun masih
muda usianya telah menunjukkan
kematangan berfikir dan keberanian
melahirkan pendapat walaupun tidak
sesuai dengan pendapat ayahnya.
Peristiwa ini merupakan permulaan
dari sejarah hidup Nabi Sulaiman
yang penuh dengan mukjizat
kenabian dan kurnia Allah yang
dilimpahkan kepadanya dan kepada
ayahnya Nabi Daud.
Sulaiman Menduduki Tahta Kerajaan
Ayahnya
Sejak masih berusia muda Sulaiman
telah disiapkan oleh Daud untuk
menggantikannya untuk menduduki
tahta singgahsana kerajaan Bani
Isra'il.
Abang Sulaiman yang bernama
Absyalum tidak merelakan dirinya
dilangkahi oleh adiknya .Ia
beranggapan bahawa dialah yang
sepatutnya menjadi putera mahkota
dan bukan adiknya yang lebih lemah
fizikalnya dan lebih muda usianya
srta belum banyak mempunyai
pengalaman hidup seperti dia.
Kerananya ia menaruh dendam
terhadap ayahnya yang menurut
anggapannya tidak berlaku adil dan
telah memperkosa haknya sebagai
pewaris pertama dari tahta kerajaan
Bani Isra'il.
Absyalum berketetapan hati akan
memberotak terhadap ayahnya dan
akan berjuang bermati-matian untuk
merebut kekuasaan dari tangan
ayahnya atau adiknya apa pun yang
harus ia korbankan untuk mencapai
tujuan itu. Dan sebagai persiapan
bagi rancangan pemberontakannya
itu, dari jauh-jauh ia berusaha
mendekati rakyat, menunjukkan
kasih sayang dan cintanya kepada
mereka menolong menyelesaikan
masalah-masalah yang mereka
hadapi serta mempersatukan mereka
di bawah pengaruh dan
pimpinannya. Ia tidak jarang bagi
memperluaskan pengaruhnya,
berdiri didepan pintu istana
mencegat orang-orang yang datang
ingin menghadap raja dan
ditanganinya sendiri masalah-
masalah yang mereka minta
penyelesaian.
Setelah merasa bahawa pengaruhnya
sudah meluas di kalangan rakyat
Bani Isra'il dan bahawa ia telah
berhasil memikat hati sebahagian
besar dari mereka, Absyalum
menganggap bahawa saatnya telah
tiba untuk melaksanakan rencana
rampasan kuasa dan mengambil alih
kekuasaan dari tangan ayahnya
dengan paksa. Lalu ia menyebarkan
mata-matanya ke seluruh pelosok
negeri menghasut rakyat dan
memberi tanda kepada penyokong-
penyokong rencananya, bahawa bila
mereka mendengar suara bunyi
terompet, maka haruslah mereka
segera berkumpul, mengerumuninya
kemudian mengumumkan
pengangkatannya sebagai raja Bani
Isra'il menggantikan Daud ayahnya.
Syahdan pada suatu pagi hari di kala
Daud duduk di serambi istana
berbincang-bincang dengan para
pembesar dan para penasihat
pemerintahannya, terdengarlah
suara bergemuruh rakyat bersorak-
sorai meneriakkan pengangkatan
Absyalum sebagai raja Bani Isra'il
menggantikan Daud yang dituntut
turun dari tahtanya. Keadaan kota
menjadi kacau-bilau dilanda huru-
hara keamanan tidak terkendalikan
dan perkelahian terjadi di mana-
mana antara orang yang pro dan
yang kontra dengan kekuasaan
Absyalum.
Nabi Daud merasa sedih melihat
keributan dan kekacauan yang
melanda negerinya, akibat perbuatan
puterannya sendiri. Namun ia
berusaha menguasai emosinya dan
menahan diri dari perbuatan dan
tindakan yang dapat menambah
parahnya keadaan. Ia mengambil
keputusan untuk menghindari
pertumpahan darah yang tidak
diinginkan, keluar meninggalkan
istana dan lari bersama-sama
pekerjanya menyeberang sungai
Jordan menuju bukit Zaitun. Dan
begitu Daud keluar meninggalkan
kota Jerusalem, masuklah Absyalum
diiringi oleh para pengikutnya ke
kota dan segera menduduki istana
kerajaan. Sementara Nabi Daud
melakukan istikharah dan munajat
kepada Tuhan di atas bukit Zaitun
memohon taufiq dan pertolongan-
Nya agar menyelamatkan kerajaan
dan negaranya dari malapetaka dan
keruntuhan akibat perbuatan
puteranya yang durhaka itu.
Setelah mengadakan istikharah dan
munajat yang tekun kepada Allah,
akhirnya Daud mengambil keputusan
untuk segera mengadakan kontra
aksi terhadap puteranya dan
dikirimkanlah sepasukan tentera dari
para pengikutnya yang masih setia
kepadanya ke Jerusalem untuk
merebut kembali istana kerajaan
Bani Isra'il dari tangan Absyalum.
Beliau berpesan kepada komandan
pasukannya yang akan menyerang
dan menyerbu istana, agar bertindak
bijaksana dan sedapat mungkin
menghindari pertumpahan darah
dan pembunuhan yang tidak perlu,
teristimewa mengenai Absyalum,
puteranya, ia berpesan agar
diselamatkan jiwanya dan
ditangkapnya hidup-hidup. Akan
tetapi takdir telah menentukan lain
daripada apa yang si ayah inginkan
bagi puteranya. Komandan yang
berhasil menyerbu istana tidak dapat
berbuat lain kecuali membunuh
Absyalum yang melawan dan enggan
menyerahkan diri setelah ia
terkurung dan terkepung.
Dengan terbunuhnya Absyalum
kembalilah Daud menduduki
tahtanya dan kembalilah ketenangan
meliputi kota Jerusalem sebagaimana
sediakala. Dan setelah menduduki
tahta kerajaan Bani Isra'il selama
empat puluh tahun wafatlah Nabi
Daud dalam usia yang lanjut dan
dinobatkanlah sebagai pewarisnya
Sulaiman sebagaimana telah
diwasiatkan oleh ayahnya.
Kekuasaan Sulaiman Atas Jin dan
Makhluk Lain
Nabi Sulaiman yang telah berkuasa
penuh atas kerajaan Bani Isra'il yang
makin meluas dan melebar, Allah
telah menundukkan baginya
makhluk-makhluk lain, iaitu Jin angin
dan burung-burung yang
kesemuanya berada di bawah
perintahnya melakukan apa yang
dikehendakinya dan melaksanakan
segala komandonya. Di samping itu
Allah memberinya pula suatu kurnia
berupa mengalirnya cairan tembaga
dari bawah tanah untuk
dimanfaatkannya bagi karya
pembangunan gedung-gedung,
perbuatan piring-piring sebesar
kolam air, periuk-periuk yang tetap
berada diatas tungku yang
dikerjakan oleh pasukan Jin-Nya.
Sebagai salah satu mukjizat yang
diberikan oleh Allah kepada
Sulaiman ialah kesanggupan beliau
menangkap maksud yang terkandung
dalam suara binatang-binatang dan
sebaliknya binatang-binatang dapat
pula mengerti apa yang ia
perintahkan dan ucapkan.
Demikianlah maka tatkala Nabi
Sulaiman berpergian dalam
rombongan kafilah yang besar terdiri
dari manusia, jin dan binatang-
binatang lain, menuju ke sebuah
tempat bernama Asgalan ia melalui
sebuah lembah yang disebut lembah
semut. Disitu ia mendengar seekor
semut berkata kepada kawan-
kawannya: "Hai semut-semut,
masuklah kamu semuanya ke dalam
sarangmu, agar supaya kamu selamat
dan tidak menjadi binasa diinjak oleh
Sulaiman dan tenteranya tanpa ia
sedar dan sengaja.
Nabi Sulaiman tersenyum tertawa
mendengar suara semut yang
ketakutan itu. Ia memberitahu hal itu
kepada para pengikutnya seraya
bersyukur kepada Allah atas kurnia-
Nya yang menjadikan ia dapat
mendengar serta menangkap maksud
yang terkandung dalam suara semut
itu. Ia merasa takjud bahawa
binatang pun mengerti bahawa nabi-
nabi Allah tidak akan mengganggu
sesuatu makhluk dengan sengaja dan
dalam keadaan sedar.
Sulaiman dan Ratu Balqis
Setelah Nabi Sulaiman
membangunkan Baitulmaqdis dan
melakukan ibadah haji sesuai dengan
nadzarnya pergilah ia meneruskan
perjalannya ke Yeman. Setibanya di
San'a - ibu kota Yeman ,ia memanggil
burung hud-hud sejenis burung
pelatuk untuk disuruh mencari
sumber air di tempat yang kering
tandus itu. Ternyata bahawa burung
hud-hud yang dipanggilnya itu tidak
berada diantara kawasan burung
yang selalu berada di tempat untuk
melakukan tugas dan perintah Nabi
Sulaiman. Nabi Sulaiman marah dan
mengancam akan mengajar burung
Hud-hud yang tidak hadir itu bila ia
datang tanpa alasan dan uzur yang
nyata.
Berkata burung Hud-hud yang
hinggap didepan Sulaiman sambil
menundukkan kepala ketakutan::
"Aku telah melakukan penerbangan
pengintaian dan menemukan sesuatu
yang sangat penting untuk diketahui
oleh paduka Tuan. Aku telah
menemukan sebuah kerajaan yang
besar dan mewah di negeri Saba
yang dikuasai dan diperintah oleh
seorang ratu. Aku melihat seorang
ratu itu duduk di atas sebuah tahta
yang megah bertaburkan permata
yang berkilauan. Aku melihat ratu
dan rakyatnya tidak mengenal Tuhan
Pencipta alam semesta yang telah
mengurniakan mereka kenikmatan
dan kebahagian hidup. Mereka tidak
menyembah dan sujud kepada-Nya,
tetapi kepada matahari. Mereka
bersujud kepadanya dikala terbit dan
terbenam. Mereka telah disesatkan
oleh syaitan dari jalan yang lurus
dan benar."
Berkata Sulaiman kepada Hud-hud:
"Baiklah, kali ini aku ampuni dosamu
kerana berita yang engkau bawakan
ini yang aku anggap penting untuk
diperhatikan dan untuk
mengesahkan kebenaran beritamu
itu, bawalah suratku ini ke Saba dan
lemparkanlah ke dalam istana ratu
yang engkau maksudkan itu,
kemudian kembalilah secepat-
cepatnya, sambil kami menanti
perkembangan selanjutnya
bagaimana jawapan ratu Saba atas
suratku ini."
HUd-hud terbang kembali menuju
Saba dan setibanya di atas istana
kerajaan Saba dilemparkanlah surat
Nabi Sulaiman tepat di depan ratu
Balqis yang sedang duduk dengan
megah di atas tahtanya. Ia terkejut
melihat sepucuk surat jatuh dari
udara tepat di depan wajahnya. Ia
lalu mengangkat kepalanya melihat
ke atas, ingin mengetahui dari
manakah surat itu datang dan
siapakah yang secara kurang hormat
melemparkannya tepat di depannya.
Kemudian diambillah surat itu oleh
ratu, dibuka dan baca isinya yang
berbunyi: "Dengan Nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Penyayang, surat
ini adalah daripadaku, Sulaiman.
Janganlah kamu bersikap sombong
terhadapku dan menganggap dirimu
lebih tinggi daripadaku. Datanglah
sekalian kepadaku berserah diri."
Setelah dibacanya berulang kali surat
Nabi Sulaiman Ratu Balqis
memanggil para pembesarnya dan
para penasihat kerajaan berkumpul
untuk memusyawarahkan tindakan
apa yang harus diambil sehubungan
dengan surat Nabi Sulaiman yang
diterimanya itu.
Berkatlah para pembesar itu ketika
diminta petimbangannya: "Wahai
paduka tuan ratu, kami adalah
putera-putera yang dibesarkan dan
dididik untuk berperang dan
bertempur dan bukan untuk menjadi
ahli pemikir atau perancang yang
patut memberi pertimbangan atau
nasihat kepadamu. Kami
menyerahkan kepadamu untuk
mengambil keputusan yang akan
membawa kebaikan bagi kerajaan
dan kami akan tunduk dan
melaksanakan segala perintah dan
keputusanmu tanpa ragu. Kami tidak
akan gentar menghadapi segala
ancaman dari mana pun datangnya
demi menjaga keselamatanmu dam
keselamatan kerajaanmu."
Ratu Balqis menjawab: "Aku
memperoleh kesan dari uraianmu
bahwa kamu mengutamakan cara
kekerasan dan kalau perlu kamu
tidak akan gentar masuk medan
perang melawan musuh yang akan
menyerbu. Aku sangat berterima
kasih atas kesetiaanmu kepada
kerajaan dan kesediaanmu
menyabung nyawa untuk menjaga
keselamatanku dan keselamatan
kerajaanku. Akan tetapi aku tidak
sependirian dengan kamu sekalian.
Menurut pertimbanganku, lebih
bijaksana bila kami menempuh jalan
damai dan menghindari cara
kekerasan dan peperangan. Sebab
bila kami menentang secara
kekerasan dan sampai terjadi perang
dan musuh kami berhasil menyerbu
masuk kota-kota kami, maka nescaya
akan berakibat kerusakan dan
kehancuran yang sgt menyedihkan.
Mereka akan menghancur binasakan
segala bangunan, memperhambakan
rakyat dan merampas segala harta
milik dan peninggalan nenek moyang
kami. Hal yang demikian itu adalah
merupakan akibat yang wajar dari
tiap peperangan yang dialami oleh
sejarah manusia dari masa ke
semasa. Maka menghadapi surat
Sulaiman yang mengandung
ancaman itu, aku akan cuba
melunakkan hatinya dengan
mengirimkan sebuah hadiah
kerajaan yang akan terdiri dari
barang-barang yang berharga dan
bermutu tinggi yang dapat
mempesonakan hatinya dan
menyilaukan matanya dan aku akan
melihat bagaimana ia memberi
tanggapan dan reaksi terhadap
hadiahku itu dan bagaimana ia
menerima utusanku di istananya.
Selagi Ratu Balgis siap-siap mengatur
hadiah kerajaan yang akan dikirim
kepada Sulaiman dan memilih orang-
orang yang akan menjadi utusan
kerajaan membawa hadiah, tibalah
hinggap di depan Nabi Sulaiman
burung pengintai Hud-hud
memberitakan kepadanya rancangan
Balqis untuk mengirim utusan
membawa hadiah baginya sebagai
jawaban atas surat beliau
kepadanya.
Setelah mendengar berita yang
dibawa oleh Hud-hud itu, Nabi
Sulaiman mengatur rencana
penerimaan utusan Ratu Balqis dan
memerintahkan kepada pasukan
Jinnya agar menyediakan dan
membangunkan sebuah bangunan
yang megah yang tiada taranya ya
akan menyilaukan mata perutusan
Balqis bila mereka tiba.
Tatkala perutusan Ratu Balqis datang,
diterimalah mereka dengan ramah
tamah oleh Sulaiman dan setelah
mendengar uraian mereka tentang
maksud dan tujuan kedatangan
mereka dengan hadiah kerajaan
yang dibawanya, berkatalah Nabi
Sulaiman: "Kembalilah kamu dengan
hadiah-hadiah ini kepada ratumu.
Katakanlah kepadanya bahawa Allah
telah memberiku rezeki dan
kekayaan yang melimpah ruah dan
mengurniaiku dengan kurnia dan
nikmat yang tidak diberikannya
kepada seseorang drp makhluk-Nya.
Di samping itu aku telah diutuskan
sebagai nabi dan rasul-Nya dan
dianugerahi kerajaan yang luas yang
kekuasaanku tidak sahaja berlaku
atas manusia tetapi mencakup juga
jenis makhluk Jin dan binatang-
binatang. Maka bagaimana aku akan
dapat dibujuk dengan harta benda
dan hadiah serupa ini? Aku tidak
dapat dilalaikan dari kewajiban
dakwah kenabianku oleh harta benda
dan emas walaupun sepenuh bumi
ini. Kamu telah disilaukan oleh
benda dan kemegahan duniawi,
sehingga kamu memandang besar
hadiah yang kamu bawakan ini dan
mengira bahawa akan tersilaulah
mata kami dengan hadiah Ratumu.
Pulanglah kamu kembali dan
sampaikanlah kepadanya bahawa
kami akan mengirimkan bala tentera
yang sangat kuat yang tidak akan
terkalahkan ke negeri Saba dan akan
mengeluarkan ratumu dan pengikut-
pengikutnya dari negerinya sebagai-
orang-orang yang hina-dina yang
kehilangan kerajaan dan
kebesarannya, jika ia tidak segera
memenuhi tuntutanku dan datang
berserah diri kepadaku."
Perutusan Balqis kembali
melaporkan kepada Ratunya apa
yang mereka alami dan apa yang
telah diucapkan oleh Nabi Sulaiman.
Balqis berfikir, jalan yang terbaik
untuk menyelamatkan diri dan
kerajaannya ialah menyerah saja
kepada tuntutan Sulaiman dan
datang menghadap dia di istananya.
Nabi Sulaiman berhasrat akan
menunjukkan kepada Ratu Balqis
bahawa ia memiliki kekuasaan ghaib
di samping kekuasaan lahirnya dan
bahwa apa yang dia telah ancamkan
melalui rombongan perutusan
bukanlah ancaman yang kosong.
Maka bertanyalah beliau kepada
pasukan Jinnya, siapakah diantara
mereka yang sanggup mendatangkan
tahta Ratu Balqis sebelum orangnya
datang berserah diri.
Berkata Ifrit, seorang Jin yang
tercerdik: "Aku sanggup membawa
tahta itu dari istana Ratu Balqis
sebelum engkau sempat berdiri dari
tempat dudukimu. Aku adalah
pesuruhmu yang kuat dan dapat
dipercayai.
Seorang lain yang mempunyai ilmu
dan hikmah nyeletuk berkata: "Aku
akan membawa tahta itu ke sini
sebelum engkau sempat
memejamkan matamu."
Ketika Nabi Sulaiman melihat tahta
Balqis sudah berada didepannya,
berkatalah ia: Ini adalah salah satu
kurnia Tuhan kepadaku untuk
mencuba apakah aku bersyukur atas
kurnia-Nya itu atau mengingkari-
Nya, kerana barang siapa bersyukur
maka itu adalah semata-mata untuk
kebaikan dirinya sendiri dan
barangsiapa mengingkari nikmat dan
kurnia Allah, ia akan rugi di dunia
dan di akhirat dan sesungguhnya
Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia."
Menyonsong kedatangan Ratu Balqis,
Nabi Sulaiman memerintahkan
orang-orangnya agar mengubah
sedikit bentuk dan warna tahta Ratu
itu yang sudah berada di depannya
kemudian setelah Ratu itu tiba
berserta pengiring-pengiringnya,
bertanyalah Nabi Sulaiman seraya
menundingkan kepada tahtanya:
"Serupa inikah tahtamu?" Balqis
menjawab: "Seakan-akan ini adalah
tahtaku sendiri," seraya bertanya-
tanya dalam hatinya, bagaimana
mungkin bahawa tahtanya berada di
sini padahal ia yakin bahawa tahta
itu berada di istana tatkala ia
bertolak meninggalkan Saba.
Selagi Balgis berada dalam keadaan
kacau fikiran, kehairanan melihat
tahta kerajaannya sudah berpindah
ke istana Sulaiman, ia dibawa masuk
ke dalam sebuah ruangan yang
sengaja dibangun untuk
penerimaannya. Lantai dan dinding-
dindingnya terbuat dari kaca putih.
Balqis segera menyingkapkan
pakaiannya ke atas betisnya ketika
berada dalam ruangan itu, mengira
bahawa ia berada di atas sebuah
kolam air yang dapat membasahi
tubuh dan pakaiannya.
Berkata Nabi Sulaiman kepadanya:
"Engkau tidak usah menyingkap
pakaianmu. Engkau tidak berada di
atas kolam air. Apa yang engkau lihat
itu adalah kaca-kaca putih yang
menjadi lantai dan dinding ruangan
ini."
"Oh,Tuhanku," Balqis berkata
menyedari kelemahan dirinya
terhadap kebesaran dan kekuasaan
Tuhan yang dipertunjukkan oleh
Nabi Sulaiman, "aku telah lama
tersesat berpaling daripada-Mu,
melalaikan nikmat dan kurnia-Mu,
merugikan dan menzalimi diriku
sendiri sehingga terjatuh dari cahaya
dan rahmat-Mu. Ampunilah aku. Aku
berserah diri kepada Sulaiman Nabi-
Mu dengan ikhlas dan keyakinan
penuh. Kasihanilah diriku wahai
Tuhan Yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang."
Demikianlah kisah Nabi Sulaiman
dan Balqis Ratu Saba. Dan menurut
sementara ahli tafsir dan ahli sejarah
nabi-nabi, bahawa Nabi Sulaiman
pada akhirnya kahwin dengan Balqis
dan dari perkahwinannya itu lahirlah
seorang putera.
Menurut pengakuan maharaja
Ethiopia Abessinia, mereka adalah
keturunan Nabi Sulaiman dari putera
hasil perkahwinannya dengan Balqis
itu. Wallahu alam bisshawab.
Wafatnya Nabi Sulaiman
Al-Quran mengisahkan bahawa tidak
ada tanda-tanda yang menunjukkan
kematian Sulaiman kecuali anai-anai
yang memakan tongkatnya yang ia
sandar kepadanya ketika Tuhan
mengambil rohnya. Para Jin yang
sedang mengerjakan bangunan atas
perintahnya tidak mengetahui
bahawa Nabi Sulaiman telah mati
kecuali setelah mereka melihat Nabi
Sulaiman tersungkur jatuh di atas
lantai, akibat jatuhnya tongkat
sandarannya yang dimakan oleh
anai-anai. Sekiranya para Jin sudah
mengetahui sebelumnya, pasti
mereka tidak akan tetap meneruskan
pekerjaan yang mereka anggap
sebagai seksaan yang menghinakan.
Berbagai cerita yang dikaitkan orang
pada ayat yang mengisahkan
matinya Nabi Sulaiman , namun
kerana cerita-cerita itu tidak
ditunjang dikuatkan oleh sebuah
hadis sahih yang muktamad, maka
sebaiknya kami berpegang saja
dengan apa yang dikisahkan oleh Al-
Quran dan selanjutnya Allahlah yang
lebih Mengetahui dan kepada-Nya
kami berserah diri.
Kisah Nabi Sulaiman dapat dibaca di
dalam Al-Quran, surah An-Naml ayat
15 sehingga ayat 44
demikian kisah Nabi Sulaiman AS
semoga bermanfaat.

Kisah 25 Nabi dan Rasul - Nabi Daud AS -

baiklah kali ini kita akan membahas
kisah Nabi Daud AS pada zaman
rasul, nah ni kisah nabi dan rasul kita
selanjutnya, semoga bermanfaat
untujk kita semua..
Daud bin Yisya adalah salah seorang
dari tiga belas bersaudara turunan
ketiga belas dari Nabi Ibrahim a.s. Ia
tinggal bermukim di kota Baitlehem,
kota kelahiran Nabi Isa a.s. bersama
ayah dan tiga belas saudaranya.
Daud Dan Raja Thalout
Ketika raja Thalout raja Bani Isra'il
mengerahkan orang supaya
memasuki tentera dan menyusun
tentera rakyat untuk berperang
melawan bangsa Palestin, Daud
bersama dua orang kakaknya
diperintahkan oleh ayahnya untuk
turut berjuang dan menggabungkan
diri ke dalam barisan askar Thalout.
Khusus kepada Daud sebagai anak
yang termuda di antara tiga
bersaudara, ayahnya berpesan agar
ia berada di barisan belakang dan
tidak boleh turut bertempur. Ia
ditugaskan hanya untuk melayani
kedua kakaknya yang harus berada
dibarisan depan, membawakan
makanan dan minuman serta
keperluan-2 lainnya bagi mereka, di
samping ia harus dari waktu ke
waktu memberi lapuran kepada
ayahnya tentang jalannya
pertempuran dan keadaan kedua
kakaknya di dalam medan perang. Ia
sesekali tidak diizinkan maju ke garis
depan dan turut bertempur,
mengingatkan usianya yang masih
muda dan belum ada pengalaman
berperang sejak ia dilahirkan.
Akan tetapi ketika pasukan Thalout
dari Bani Isra'il berhadapan muka
dengan pasukan Jalout dari bangsa
Palestin, Daud lupa akan pesan
ayahnya tatkala mendengar suara
Jalout yang nyaring dengan penuh
kesombongan menentang mengajak
berperang, sementara jaguh-jaguh
perang Bani Isra'il berdiam diri
sehinggapi rasa takut dan kecil hati.
Ia secara spontan menawarkan diri
untuk maju menghadapi Jalout dan
terjadilah pertempuran antara
mereka berdua yang berakhir
dengan terbunuhnya Jalout
sebagaimana telah diceritakan dalam
kisah sebelum ini.
Sebagai imbalan bagi jasa Daud
mengalahkan Jalout maka dijadikan
menantu oleh Thalout dan
dikahwinkannya dengan puterinya
yang bernama Mikyal, sesuai dengan
janji yang telah diumumkan kepada
pasukannya bahwa puterinya akan
dikahwinkan dengan orang yang
dapat bertempur melawan Jalout dan
mengalahkannya.
Di samping ia dipungut sebagai
menantu, Daud diangkat pula oleh
raja Thalout sebagai penasihatnya
dan orang kepercayaannya. Ia
disayang, disanjung dan dihormati
serta disegani bukan sahaja oleh
mertuanya bahkan oleh seluruh
rakyat Bani Isra'il yang melihatnya
sebagai pahlawan bangsa yang telah
berhasil mengangkat keturunan serta
darjat Bani Isra'il di mata bangsa-2
sekelilingnya.
Suasana keakraban, saling sayang
dan saling cinta yang meliputi
hubungan sang menantu Daud
dengan sang mertua Thalout tidak
dapat bertahan lama. Pada akhir
waktunya Daud merasa bahwa ada
perubahan dalam sikap mertuanya
terhadap dirinya. Muka manis yang
biasa ia dapat dari mertuanya
berbalik menjadi muram dan kaku,
kata-katanya yang biasa didengar
lemah-lembut berubah menjadi kata-
kata yang kasar dan keras. Bertanya
ia kepada diri sendiri gerangan
apakah kiranya yang menyebabkan
perubahan sikap yang mendadak itu?
Adakah hal-hal yang dilakukan yang
dianggap oleh mertuanya kurang
layak, sehingga menjadikan ia marah
dan benci kepadanya? Ataukah
mungkin hati mertuanya termakan
oleh hasutan dan fitnahan orang
yang sengaja ingin merusakkan
suasana harmoni dan damai di dalam
rumah tangganya? Bukankah ia
seorang menantu yang setia dan taat
kepada mertuanta yang telah
memenuhi tugasnya dalam perang
sebaik yang oa harapkan? dan
bukankah ia selalu tetap bersedia
mengorbankan jiwa raganya untuk
membela dan mempertahankan
kekekalan kerajaan mertuanya?
Daud tidak mendapat jawapan yang
memuaskan atas pertanyaan-2 yang
melintasi fikirannya itu. IA kemudian
kembali kepada dirinya sendiri dan
berkata dalam hatinya mungkin apa
yang ia lihat sebagai perubahan sikap
dan perlakuan dari mertuannya itu
hanya suatu dugaan dan prasangka
belaka dari pihaknya dan kalau pun
memang ada maka mungkin
disebabkan oleh urusan-2 dan
masalah-2 peribadi dari mertua yang
tidak ada sangkut-pautnya dengan
dirinya sebagai menantu.
demikianlah dia mencuba
menenangkan hati dan fikirannya
yang masyangul yang berfikir
selanjutnya tidak akan
mempedulikan dan mengambil kisah
tentang sikap dan tindak-tanduk
mertuanya lebih jauh.
Pada suatu malam gelap yang sunyi
senyap, ketika ia berada di tempat
tidur bersam isterinya Mikyal. Daud
berkata kepada isterinya: "Wahai
Mikyal, entah benarkah aku atau
salah dalam tanggapanku dan apakah
khayal dan dugaan hatiku belaka
atau sesuatu kenyataan apa yang aku
lihat dalam sikap ayahmu terhadap
diriku? Aku melihat akhir-2 ini ada
perubahan sikap dari ayahmu
terhadap diriku. Ia selalu
menghadapi aku dengan muka
muram dan kaku tidak seperti
biasanya. Kata-katanya kepadaku
tidak selamah lembut seperti dulu.
Dari pancaran pandangannya
kepadaku aku melihat tanda-2
antipati dan benci kepadaku. Ia
selalu menggelakkan diri dari duduk
bersama aku bercakap-cakap dan
berbincang-bincang sebagaimana
dahulu ia lakukan bila ia melihatku
berada di sekitarnya."
Mikyal menjawab seraya menghela
nafas panjang dan mengusap air
mata yang terjatuh di atas pipinya:
"Wahai Daud aku tidak akan
menyembunyikan sesuatu
daripadamu dan sesekali tidak akan
merahsiakan hal-hal yang sepatutnya
engkau ketahui. Sesungguhnya sejak
ayahku melihat bahawa
keturunanmu makin naik di mata
rakyat dan namamu menjadi buah
mulut yang disanjung-sanjung
sebagai pahlawan dan penyelamat
bangsa, ia merasa iri hati dan khuatir
bila pengaruhmu di kalangan rakyat
makin meluas dan kecintaan mereka
kepadamu makin bertambah, hal itu
akan dapat melemahkan
kekuasaannya dan bahkan mungkin
mengganggu kewibawaan
kerajaannya. Ayahku walau ia
seorang mukmin berilmu dan bukan
dari keturunan raja menikmati
kehidupan yang mewah, menduduki
yang empuk dan merasakan
manisnya berkuasa. Orang
mengiakan kata-katanya,
melaksanakan segala perintahnya
dan membungkukkan diri jika
menghadapinya. Ia khuatir akan
kehilangan itu semua dan kembali ke
tanah ladangnya dan usaha
ternaknya di desa. Kerananya ia
tidak menyukai orang menonjol yang
dihormati dan disegani rakyat
apalagi dipuja-puja dan dianggapnya
pahlawan bangsa seperti engkau. Ia
khuatir bahawa engkau kadang-2
dapat merenggut kedudukan dan
mahkotanya dan menjadikan dia
terpaksa kembali ke cara hidupnya
yang lama sebagaimana tiap raja
meragukan kesetiaan tiap orang dan
berpurba sangka terhadap
tindakan-2 orang-2nya bila ia belum
mengerti apa yang dituju dengan
tindakan-2 itu."
"Wahai Daud", Mikyal meneruskan
ceritanya, "Aku mendapat tahu
bahawa ayahku sedang memikirkan
suatu rencana untuk menyingkirkan
engkau dan mengikis habis
pengaruhmu di kalangan rakyat dan
walaupun aku masih merayukan
kebenaran berita itu, aku rasa tidak
ada salahnya jika engkau dari
sekarang berlaku waspada dan hati-
hati terhadap kemungkinan terjadi
hal-hal yang malang bagi dirimu."
Daud merasa hairan kata-kata
isterinya itu lalu ia bertanya kepada
dirinya sendiri dan kepada isterinya:
"Mengapa terjadi hal yang
sedemikian itu? Mengapa kesetiaku
diragukan oleh ayah mu, padahal aku
dengan jujur dan ikhlas hati
berjuang di bawah benderanya,
menegakkan kebenaran dan
memerangi kebathilan serta
mengusir musuh ayahmu, Thalout
telah kemasukan godaan Iblis yang
telah menghilangkan akal sihatnya
serta mengaburkan jalan
fikirannya?" Kemudian tertidurlah
Daud selesai mengucapkan kata-kata
itu.
Pada esok harinya Daud terbangun
oelh suara seorang pesurh Raja yang
menyampaikan panggilan dan
perintah kepadanya untuk segera
datang menghadap.
Berkata sang raja kepada Daud yang
berdiri tegak di hadapannya: "Hai
Daud fikiranku kebelakang ini sgt
terganggu oleh sebuah berita yang
menrungsingkan. Aku mendengar
bahwa bangsa Kan'aan sedang
menyusun kekuatannya dan
mengerahkan rakyatnya untuk
datang menyerang dan menyerbu
daerah kita. Engkaulah harapan ku
satu-satunya, hai Daud yang akan
dapat menanganu urusan ini maka
ambillah pedangmu dan siapkanlah
peralatan perangmu pilihlah orang-
orang yang engkau percayai di
antara tenteramu dan pergilah serbu
mereka di rumahnya sebelum
sebelum mereka sempat datang
kemari. Janganlah engkau kembali
dari medan perang kecuali dengan
membawa bendera kemenangan
atau dengan jenazahmu dibawa di
atas bahu orang-orangmu."
Thalout hendak mencapi dua tujuan
sekaligus dengan siasatnya ini, ia
handak menghancurkan musuh yang
selalu mengancam negerinya dan
bersamaan dengan itu mengusirkan
Daud dari atas buminya karena
hampir dapat memastikan kepada
dirinya bahwa Daud tidak akan
kembali selamat dan pulang hidup
dari medan perang kali ini.
Siasat yang mengandungi niat jahat
dan tipu daya Thalout itu bukan
tidak diketahui oleh Daud. Ia merasa
ada udang disebalik batu dalam
perintah Thalout itu kepadanya,
namun ia sebagai rakyat yang setia
dan anggota tentera yang berdisiplin
ia menerima dan melaksanakan
perintah itu dengan sebaik-baiknya
tanpa mempedulikan atau
memperhitungkan akibat yang akan
menimpa dirinya.
Dengan bertawakkal kepada Allah
berpasrah diri kepada takdir-Nya
dan berbekal iman dan talwa di
dalam hatinya berangkatlah Daud
berserta pasukannya menuju daerah
bangsa Kan'aan. Ia tidak luput dari
lindungan Allah yang memang telah
menyuratkan dalam takdir-Nya
mengutuskan Daud sebagai Nabi dan
Rasul. Maka kembalilah Daud ke
kampung halamannya berserta
pasukannya dengan membawa
kemenangan gilang-gemilang.
Kedatangan Daud kembali dengan
membawa kemenangan diterima
oleh Thalout dengan senyum dan
tanda gembira yang dipaksakan oleh
dirinya. Ia berpura-pura menyambut
Daud dengan penghormatan yang
besar dan puji-pujian yang berlebih-
lebihan namun dalam dadanya
makin menyala-nyala api dendam
dan kebenciannya, apalagi
disadarinya bahwa dengan
berhasilnya Daud menggondol
kemenangan, pengaruhnya di mata
rakyat makin naik dan makin
dicintainyalah ia oleh Bani Isra'il
sehingga di mana saja orang
berkumpul tidak lain yang
dipercakapkan hanyalah tentang diri
Daud, keberaniannya, kecekapannya
memimpin pasukan dan
kemahirannya menyusun strategi
dengan sifat-sifat mana ia dapat
mengalahkan bangsa Kan'aan dan
membawa kembali ke rumah
kemenangan yang menjadi
kebanggaan seluruh bangsa.
Gagallah siasat Thalout
menyingkirkan Daud dengan
meminjam tangan orang-orang
Kan'aan. Ia kecewa tidak melihat
jenazah Daud diusung oleh orang-
orang nya yang kembali dari medan
perang sebagaimana yang ia
harapkan dan ramalkan, tetapi ia
melihat Daud dalam keadaan segar-
bugar gagah perkasa berada di
hadapan pasukannya menerima alu-
aluan rakyat dan sorak-sorainya
tanda cinta kasih sayang mereka
kepadanya sebagai pahlawan bangsa
yang tidak terkalahkan.
Thalout yang dibayang rasa takut
akan kehilangan kekuasaan melihat
makin meluasnya pengaruh Daud,
terutama sejak kembalinya dari
perang dengan bangsa Kan'aan,
berfikir jalan satu-satunya yang akan
menyelamatkan dia dari ancaman
Daud ialah membunuhnya secara
langsung. Lalu diaturlah rencana
pembunuhannya sedemikian
cermatnya sehingga tidak akan
menyeret namanya terbawa-bawa ke
dalamnya. Mikyal, isteri Daud yang
dapat mencium rancangan jahat
ayahnya itu, segera memberitahu
kepada suaminya, agar ia segera
menjauhkan diri dan meninggalkan
kota secepat mungkin sebelum
rancangan jahat itu sempat
dilaksanakan . Maka keluarlah Daud
memenuhi anjuran isterinya yang
setia itu meninggalkan kota diwaktu
malam gelap dengan tiada membawa
bekal kecuali iman di dada dan
kepercayaan yang teguh yang akan
inayahnya Allah dan rahmat-Nya.
Setelah berita menghilangnya Daud
dari istana Raja diketahui oleh
umum, berbondong-bondonglah
menyusul saudara-2nya, murid-2nya
dari para pengikutnya mencari
jejaknya untuk menyampaukan
kepadanya rasa setiakawan mereka
serta menawarkan bantuan dan
pertolongan yang mungkin
diperlukannya.
Mereka menemui Daud sudah agak
jauh dari kota, ia lagi istirahat seraya
merenungkan nasib yang ia alami
sebgai akibat dari perbuatan seorang
hamba Allah yang tidak mengenal
budi baik sesamanya dan yang selalu
memperturutkan hawa nafsunya
sekadar untuk mempertahankan
kekuasaan duniawinya. Hamba Allah
itu tidak sedar, fikir Daud bahwa
kenikmatan dan kekuasaan duniawi
yang ia miliki adalah pemberian
Allah yang sewaktu-waktu dapat
dicabut-Nya kembali daripadanya.
Daud Dinobatkan Sebagai Raja
Raja Thalout makin lama makin
berkurang pengaruhnya dan merosot
kewibawaannya sejak ia ditingglkan
oleh Daud dan diketahui oleh rakyat
rancangan jahatnya terhadap orang
yang telah berjasa membawa
kemenangan demi kemenangan bagi
negara dan bangsanya. Dan sejauh
perhargaan rakyat terhadap Thalout
merosot, sejauh itu pula cinta kasih
mereka kepada Daud makin
meningkat, sehingga banyak diantara
mereka yang lari mengikuti Daud
dan menggabungkan diri ke dalam
barisannya, hal mana menjaadikan
Thalout kehilangan akal dan tidak
dapat menguasai dirinya. IA lalu
menjalankan siasat tangan besi,
menghunus pedang dan membunuh
siapa saja yang ia ragukan
kesetiaannya, tidak terkecuali di
antara korban-2nya terdapat para
ulama dan para pemuka rakyat.
Thalout yang mengetahui bahawa
Daud yang merupakan satu-satunya
saingan baginya masih hidup yang
mungkin sekali akan menuntut balas
atas pengkhianatan dan rancangan
jahatnya, merasakan tidak dapat
tidur nyenyak dan hidup tebteram di
istananya sebelum ia melihatnya
mati terbunuh. Kerananya ia
mengambil keputusan untuk
mengejar Daud di mana pun ia
berada, dengan sisa pasukan
tenteranya yang sudah goyah
disiplinnya dan kesetiaannya kepada
Istana. Ia fikir harus cepat-2
membinasakan Daud dan para
pengikutnya sebelum mereka
menjadi kuat dan bertambah banyak
pengikutnya.
Daud bersert para pengikutnya pergi
bersembunyi di sebuah tempat
persembunyian tatkala mendengar
bahwa Thalout dengan askarnya
sedang mengejarnya dan sedang
berada Tidak jauh dari tempat
persembunyiannya. Ia menyuruh
beberapa orang drp para
pengikutnya untuk melihat dan
mengamat-amati kedudukan Thalout
yang sudah berada dekat dari tempat
mereka bersembunyi. Mereka
kembali memberitahukan kepada
Daud bahawa Thalout dan askarnya
sudah berada di sebuah lembah
dekat dengan tempat mereka dan
sedang tertidur semuanya dengan
nyenyak. Mereka berseru kepada
Daud jangan menyia-nyiakan
kesempatan yang baik ini untuk
memberi pukulan yang memastikan
kepada Thalout dan askarnya.
Anjuran mereka ditolak oleh Daud
dan ia buat sementara merasa cukup
sebagai peringatan pertama bagi
Thalout menggunting saja sudut
bajunya selagi ia nyenyak dalam
tidurnya.
Setelah Thalout terbangun dari
tidurnya, dihampirilah ia oleh Daud
yang seraya menunjukkan potongan
yang digunting dari sudut bajunya
berkatalah ia kepadanya: "Lihatlah
pakaian bajumu yang telah aku
gunting sewaktu engkau tidur
nyenyak. Sekiranya aku mahu
nescaya aku dengan mudah telah
membunuhmu dan menceraikan
kepalamu dari tubuhmu, namun aku
masih ingin memberi kesempatan
kepadamu untuk bertaubat dan ingat
kepada Tuhan serta membersihkan
hati dan fikiranmu dari sifat-sifat
dengki, hasut dan buruk sangka yang
engkau jadikan dalih untuk
membunuh orang sesuka hatimu."
Thalout tidak dapat
menyembunyikan rasa terkejutnya
bercampur malu yang nampak jelas
pada wajahnya yang pucat. Ia
berkata menjawab Daud: "Sungguh
engkau adalah lebih adil dan lebih
baik hati daripadaku. Engkau benar-
benar telah menunjukkan jiwa besar
dan perangai yang luhur. Aku harus
mengakui hal itu."
Peringatan yang diberikan oleh Daud
belum dapat menyedarkan Thalout.
Hasratnya yang keras untuk
mempertahankan kedudukannya
yang sudah lapuk itu menjadikan ia
lupa peringatan yang ia terima dari
Daud tatkala digunting sudut
bajunya. Ia tetap melihat Daud
sebagai musuh yang akan
menghancurkan kerajaannya dan
mengambil alih mahkotanya. Ia
merasa belum aman selama masih
hidup dikelilingi oleh para
pengikutnya yang makin lama makin
membesar bilangannya. Ia enggan
menarik pengajaran dan peristiwa
perguntingan bajunya dan mencuba
sekali lagi membawa askarnya
mengejar dan mencari Daud untuk
menangkapnya hidup atau mati.
Sampailah berita pengejaran Thalout
ke telinga Daud buat kali keduanya,
maka dikirimlah pengintai oleh Daud
untuk mengetahui dimana tempat
askar Thalout berkhemah. Di
ketemukan sekali lagi mereka sedang
berada disebuah bukit tertidur
dengan nyenyaknya karena payah
kecapaian. Dengan melangkah
beberapa anggota pasukan yang lagi
tidur, sampailah Daud di tempat
Thalout yang lagi mendengkur dalam
tidurnya, diambilnyalah anak panah
yang tertancap di sebelah kanan
kepala Thalout berserta sebuah
kendi air yang terletak disebelah
kirinya. Kemudian dari atas bukit
berserulah Daud sekeras suaranya
kepada anggota pasukan Thalout
agar mereka bangun ari tidurnya
dan menjaga baik-baik keselamatan
rajanya yang nyaris terbunuh karena
kecuaian mereka. Ia mengundang
salah seorang dari anggota pasukan
untuk datang mengambil kembali
anak panah dan kendi air kepunyaan
raja yang telah dicuri dari sisinya
tanpa seorang pun dari mereka yang
mengetahuinya.
Tindakan Daud itu yang
dimaksudkan sebagai peringatan kali
kedua kepada Thalout bahwa
pasukan pengawal yang besar yang
mengelilinginya tidak akan dapat
menyelamatkan nyawanya bila Allah
menghendaki merenggutnya. Daud
memberi dua kali peringatan kepada
Thalout bukan dengan kata-kata
tetapi dengan perbuatan yang nyata
yang menjadikan ia merasa ngeri
membayangkan kesudahan hayatnya
andaikan Daud menuntut balas atas
apa yang ia telah lakukan dan
rancangkan untuk pembunuhannya.
Jiwa bsar yang telah ditunjukkan
oleh daud dalam kedua peristiwa itu
telah sangat berkesan dalam lubuk
hati Thalout.
Ia terbangun dari lamunannya dan
sedar bahawa ia telah jauh tersesat
dalam sikapnya terhadap Daud. Ia
sedar bahawa nafsu angkara murka
dan bisikan iblislah yang
mendorongkan dia merancangkan
pembunuhan atas diri Daud yang
tidak berdosa, yang setia kepada
kerajaannya, yang berkali-kali
mempertaruhkan jiwanya untuk
kepentingan bangsa dan negerinya,
tidak pernah berbuat kianat atau
melalaikan tugas dan kewajibannya.
Ia sedar bahawa ia telah berbuat
dosa besar dengan pembunuhan
yang telah dilakukan atas beberapa
pemuka agama hanya kerana purba
sangka yang tidak berdasar.
Thalout duduk seorang diri
termenung membalik-balik lembaran
sejarah hidupnya, sejak berada di
desa bersama ayahnya, kemudian
tanpa diduga dan disangka, berkat
rahmat dan kurnia Allah diangkatlah
ia menjadi raja Bani Isra'il dan
bagaimana Tuhan telah mengutskan
Daud untuk mendampinginya dan
menjadi pembantunya yang setia dan
komandan pasukannya yang gagah
perkasa yang sepatutnya atas jasa-
jasanya itu ia mendapat penghargaan
yang setinggi-tingginya dan bukan
sebagaimana ia telah lakukan yang
telah merancangkan
pembunuhannya dan mengejar-
gejarnya setelah ia melarikan diri
dari istana. Dan walaupun ia telah
mengkhianati Daud dengan
rancangan jahatnya, Daud masih
berkenan memberi ampun
kepadanya dalam dua kesempatan di
mana ia dengan mudah
membunuhnya andaikan dia mahu.
Membayangkan peristiwa-2 itu
semunya menjadi sesaklah dada
Thalout menyesalkan diri yang telah
terjerumus oleh hawa nafsu dan
godaan Iblis sehingga ia menyia-
nyiakan kurnia dan rahmat Allah
dengan tindakan-tindakan yang
bahkan membawa dosa dan murka
Allah. Maka untuk menebuskan dosa-
dosanya dan bertaubat kepada Allah,
Thalout akhirnya mengambil
keputusan keluar dari kota
melepaskan mahkotanya dan
meninggalkan istananya berserta
segala kebesaran dan kemegahannya
lalu pergilah ia berkelana dan
mengembara di atas bumi Allah
sampai tiba saatnya ia mendapat
panggilan meninggalkan dunia yang
fana ini menuju alam yang baka.
Syahdan, setelah istana kerajaan
Bani Isra'il ditinggalkan oleh Thalout
yang pergi tanpa meninggalkan
bekas, beramai-ramailah rakyat
mengangkat dan menobatkan Daud
sebagai raja yang berkuasa.
Nabi Daud mendapat Godaan
Daud dapat menangani urusan
pemerintahan dan kerajaan,
mengadakan peraturan dan
menentukan bagi dirinya hari-hari
khusus untuk melakukan ibadah dan
bermunajat kepada Allah, hari-hari
untuk peradilan, hari-hari untuk
berdakwah dan memberi
penerangan kepada rakyat dan hari-
hari menyelesaikan urusan-urusan
peribadinya.
Pada hari-hari yang ditentukan
untuk beribadah dan menguruskan
urusan-2 peribada, ia tidak
diperkenankan seorang pun
menemuinya dan mengganggu dalam
khalawatnya, sedang pada hari-hari
yang ditentukan untuk peradilan
maka ia menyiapkan diri untuk
menerima segala lapuran dan
keluhan yang dikemukan oleh
rakyatnya serta menyelesaikan
segala pertikaian dan perkelahian
yang terjadi diantara sesama
mereka. Peraturan itu diikuti secara
teliti dan diterapkan secara ketat
oleh para pengawal dan petugas
keamanan istana.
Pada suatu hari di mana ia harus
menutup diri untuk beribadah dan
berkhalwat datanglah dua orang
lelaki meminta izin dari para
pengawal untuk masuk bagi
menemui raja. Izin tidak diberikan
oleh para pengawal sesuai dengan
ketentuan yang berlaku, namun
lelaki itu memaksa kehendaknya dan
melalui pagar yang dipanjat
sampailah mereka ke dalam istana
dan bertemu muka dengan Daud.
Daud yang sedang melakukan
ibadahnya terperanjat melihat kedua
lelaki itu sudah berada di depannya,
padahal ia yakin para penjaga pintu
istana tidak akan dapat melepaskan
siapa pun masuk istana menemuinya.
Berkatalah kedua tamu yang tidak
diundang itu ketika melihat wajah
Daud menjadi pucat tanda takut dan
terkejut: "Janganlah terkejut dan
janganlah takut. Kami berdua datang
kemari untuk meminta keputusan
yang adil dan benar mengenai
perkara sengketa yang terjadi antara
kami berdua."
Nabi Daud tidak dapat berbuat selain
daripada menerima mereka yang
sudah berada didepannya,
kendatipun tidak melalui prosedur
dan protokol yang sepatutnya.
Berkatalah ia kepada mereka setelah
pulih kembali ketenangannya dan
hilang rasa paniknya: "Cubalah
bentangkan kepadaku persoalanmu
dalam keadaan yang sebenarnya."
Berkata seorh daripada kedua lelaki
itu: "Saudaraku ini memilki sembilan
puluh sembilan ekor domba betina
dan aku hanya memilki seekor
sahaja. Ia menuntut dan
mendesakkan kepadaku agar aku
serahkan kepadanya dombaku yang
seekor itu bagi melengkapi
perternakannya menjadi genap
seratus ekor. Ia membawa macam-
macam alasan dan berbagai dalil
yang sangat sukar bagiku untuk
menolaknya, mengingatkan bahawa
ia memang lebih cekap berdebat dan
lebih pandai bertikam lidah
daripadaku."
Nabi Daud berpaling muka kepada
lelaki yang lain yang sedang seraya
bertanya: "Benarkah apa yang telah
diuraikan oleh saudara kamu ini?"
"Benar" ,jawab lelaki itu.
"Jika memang demikian halnya", kata
Daud, dengan marah "maka engkau
telah berbuat zalim kepada
saudaramu ini dan memperkosakan
hak miliknya dengan tuntutanmu itu.
Aku tidak akan membiarkan engkau
melanjutkan tindakanmu yang zalim
itu atau engkau akan menghadapi
hukuman pukulan pada wajah dan
hidungmu. Dan memang banyak di
antara orang-orang yang berserikat
itu yang berbuat zalim satu terhadap
yang lain kecuali mereka yang benar
beriman dan beramal soleh."
"Wahai Daud", berkata lelaki itu
menjawab, "sebenarnya engkaulah
yang sepatut menerima hukuman
yang engkau ancamkan kepadaku itu.
Bukankah engkau sudah mempunyai
sembilan puluh sembilan perempuan
mengapa engkau masih menyunting
lagi seorang gadis yang sudah lama
bertunang dengan seorang pemuda
anggota tenteramu sendiri yang setia
dan bakti dan sudah lama mereka
berdua saling cinta dan mengikat
janji."
Nabi Daud tercengang mendengar
jawapan lelaki yang berani, tegas dan
pedas itu dan sekali lagi ia
memikirkan ke mana sasaran dan
tujuan kata-kata itu, sekonyong-
konyong lenyaplah menghilang dari
pandangannya kedua susuk tubuh
kedua lelaki itu. Nabi Daud berdiam
diri tidak mengubah sikap duduknya
dan seraya termenung sedarlah ia
bahawa kedua lelaki itu adalah
malaikat yang diutuskan oleh Allah
untuk memberi peringatan dan
teguran kepadanya. Ia seraya
bersujud memohon ampun dan
maghfirah dari Tuhan atas segala
tindakan dan perbuatan yang tidak
diredhai oleh-Nya. Allah menyatakan
menerima taubat Daud, mengampuni
dosanya serta mengangkatnya ke
tingkat para nabi dan rasul-Nya.
Adapun gadis yang dimaksudkan
dalam percakapan Daud dengan
kedua malaikat yang menyerupai
sebagai manusia itu ialah "Sabigh
binti Sya'igh seorang gadis yang
berparas elok dan cantik, sedang
calon suaminya adalah "Uria bin
Hannan" seorang pemuda jejaka yang
sudah lama menaruh cinta dan
mengikat janji dengan gadis tersebut
bahwa sekembalinya dari medan
perang mereka berdua akan
melangsungkan perkhawinan dan
hidup sebagai suami isteri yang
bahagia. Pemuda itu telah secara
rasmi meminang Sabigh dari kedua
orang tuanya, yang dengan senang
hati telah menerima baik uluran
tangan pemuda itu.
Akan tetapi apa yang hendak
dikatakan sewaktu Uria bin Hannan
berada di negeri orang
melaksanakan perintah Daud
berjihad untuk menegakkan kalimah
Allah, terjadilah sesuatu yang
menghancurkan rancangan
syahdunya itu dn menjadilah cita-
citanya untuk beristerikan Sabigh
gadis yang diidam-idamkan itu,
seakan-akan impian atau
fatamorangana belaka.
Pada suatu hari di mana Uria masih
berada jauh di negeri orang
melaksanakan perintah Allah untuk
berjihad, tertangkaplah paras Sabigh
yang ayu itu oleh kedua belah mata
Daud dan dari pandangan pertama
itu timbullah rasa cinta di dalam hati
Daud kepada sang gadis itu, yang
secara sah adalah tunangan dari
salah seorang anggota tenteranya
yang setia dan cekap. Daud tidak
perlu berfikir lama untuk
menyatakan rasa hatinya terhadap
gadis yang cantik itu dan segera
mendatangi kedua orang tuanya
meminang gadis tersebut.
Gerangan orang tua siapakah yang
akan berfikir akan menolak uluran
tangan seorang seperti Daud untuk
menjadi anak menantunya.
Bukankah merupakan suatu
kemuliaan yang besar baginya untuk
menjadi ayah mertua dari Daud
seorang pesuruh Allah dan raja Bani
Isra'il itu. Dan walaupun Sabigh
telah diminta oleh Uria namin Uria
sudah lama meninggalkan
tunangannya dan tidak dapat
dipastikan bahwa ia akan cepat
kembali atau berada dalam keadaan
hidup. Tidak bijaksanalah fikir kedua
orang tua Sabigh untuk menolak
uluran tangan Daud hanya semata-
mata karena menantikan kedatangan
Uria kembali dari medan perang.
Maka diterimalah permintaan Daud
dan kepadanya diserahkanlah Sabigh
untuk menjadi isterinya yang sah.
Demikianlah kisah perkhawinan
Daud dan Sabigh yang menurut para
ahli tafsir menjadi sasaran kritik dan
teguran Allah melalui kedua malaikat
yang merupai sebagai dua lelaki
yang datang kepada Nabi Daud
memohon penyelesaian tentang
sengketa mereka perihal domba
betina mereka.
Hari Sabtunya Bani Isra'il
Di antara ajaran-2 Nabi Musa a.s.
kepada Bani Isra'il ialah bahawa
mereka mewajibkan untuk
mengkhususkan satu hari pada tiap
minggu bagi melakukan ibadah
kepada Allah mensucikan hati dan
fikiran mereka dengan berzikir,
bertahmid dan bersyukur atas segala
kurnia dan nikmat Tuhan, bersolat
dan melakukan perbuatan-2 yang
baik serta amal-2 soleh. Diharamkan
bagi mereka pada hari yang
ditentukan itu untuk berdagang dan
melaksanakan hal-hal yang bersifat
duniawi.
Pada mulanya hari Jumaatlah yang
ditunjuk sebagai hari keramat dan
hari ibadah itu, alan tetapi mereka
meminta dari Nabi Musa agar hari
ibadah itu dijatuhkan pada setiap
hari Sabtu, mengingatkan bahwa
pada hari itu Allah selesai
menciptakan makhluk-Nya. Usul
perubahan yang mereka ajukan itu
diterima oleh Nabi Musa, maka sejak
itu, hari Sabtu pada setiap minggu
daijadikan hari mulia dan suci, di
mana mereka tidak melakukan
perdagangan dan mengusahakan
urusan-2 duniawi. Mereka hanya
tekun beribadah dan ebrbuat amal-
amal kebajikan yang diperintahkan
oleh agama. Demikianlah hari
berganti hari, bulan berganti bulan
dan tahun berganti tahun namun
adat kebiasaan mensucikan hari
Sabtu tetap dipertahankan turun
temurun dan generasi demi
generasi.
Pada masa Nabi Daud berkuasa di
suatu desa bernama "Ailat" satu
diantara beberapa desa yang terletak
di tepi Laut Merah bermukim
sekelompok kaum dari keturunan
Bani Isra'il yang sumber
percariannya adalah dari
penangkapan ikan, perdagangan dan
pertukangan yang dilakukannya
setiap hari kecuali hari Sabtu.
Sebagai akibat dari perintah
mensucikan hari Sabtu di mana tiada
seorang malakukan urusan dagangan
atau penangkapan ikan, maka pasar-
pasar dan tempat-2 perniagaan di
desa itu menjadi sunyi senyap pada
tiap hari dan malam sabtu, sehingga
ikan-2 di laut tampak terapung-
apung di atas permukaan air, bebas
berpesta ria mengelilingi dua buah
batu besar berwarna putih terletak
ditepi laut dekat desa Ailat.Ikan-ikan
itu seolah-olah sudah terbiasa bahwa
pada tiap malam dan hari Sabtu
terasa aman bermunculan di atas
permukaan air tanpa mendapat
gangguan dari para nelayan tetapi
begitu matahari terbenam pada
Sabtu senja menghilanglah ikan-ikan
itu kembali ke perut dan dasar laut
sesuai dengan naluri yang dimiliki
oleh tiap binatang makhluk Allah.
Para nelayan desa Ailat yang pd hari-
hari biasa tidak pernah melihat ikan
begitu banyak terapung-apung di
atas permukaan air, bahkan sukar
mendapat menangkap ikan sebanyak
yang diharapkan, menganggap
adalah kesempatan yang baik dan
menguntungkan sekali bila mereka
melakukan penangkapan ikan pada
tiap malam dan hari Sabtu. Fikiran
itu tidak disia-siakan dan tanpa
menghiraukan perintah agama dan
adat kebiasaan yang sudah berlaku
sejak Nabi Musa memerintahkannya,
pergilah mereka ramai-ramai ke
pantai menangkap ikan di malam dan
hari yang terlarang itu, sehingga
berhasillah mereka menangkap ikan
sepuas hati mereka dan sebanyak
yang mereka harapkan, Berbeda
jauh dengan hasil mereka di hari-
hari biasa.
Para penganut yang setia dan para
mukmin yang soleh datang menegur
para orang fasiq yang telah berani
melanggar kesucian hari Sabtu.
Mereka diberi nasihat dan
peringatan agar menghentikan
perbuatan mungkar mereka dan
kembali mentaati perintah agama
serta menjauhkan diri dari semua
larangannya, supay menghindari
murka Allah yang dapat mencabut
kurnia dan nikmat yang telah
diberikan kepada mereka.
Nasihat dan peringatan para mukmin
itu tidak dihiraukan oleh para
nelayan yang membangkang itu
bahkan mereka makin giat
melakukan pelanggaran secara
demonstratif karena sayang akan
kehilangan keuntungan material
yang besar yang mereka perolrh dan
penangkapan ikan di hari-hari yang
suci. Akhirnya pemuka-pemuka
agama terpaksa mengasingkan
mereka dari pergaulan dan
melarangnya masuk ke dalam kota
dengan menggunakan senjata kalau
perlu.
Berkata para nelayan pembangkang
itu memprotes: "sesungguhnya kota
Ailat adalah kota dan tempat tinggal
kami bersama kami mempunyai hak
yang sama seperti kamu untuk
tinggal menetap di sini dan sesekali
kamu tidak berhak melarang kami
memasuki kota kami ini serta
melarang kami menggali sumber-2
kekayaan yang terdapat di sini bagi
kepentingan hidup kami. Kami tidak
akan meninggalkan kota kami ini dan
pergi pindah ke tempat lain. Dan jika
engkau enggan bergaul dengan kami
maka sebaiknya kota Ailat ini di bagi
menjadi dua bahagian dipisah oleh
sebuah tembok pemisah, sehingga
masing-2 pihak bebas berbuat dan
melaksanakan usahanya tanpa
diganggu oleh mana-mana pihak
lain."
Dengan adanya garis pemisah antara
para nelayan pembangkang yang
fasiq dan pemeluk-pemeluk agama
yang taat bebaslah mereka
melaksanakan usaha penangkapan
ikan semahu hatinya secara besar-
besaran pada tiap-tiap hari tanpa
berkecuali.
Mereka membina saluran-2 air bagi
mengalirkan air laut ke dekat
rumah-2 mereka dengan
mengadakan bendungan-2 yang
mencegahkan kembalinya ikan-2 le
laut bila matahari terbenam pada
setiap petang Sabtu pada waktu
mana biasanya ikan-2 yang terapung-
apung itu meluncur kembali ke dasar
laut.
Para nelayan yang makin manjadi
kaya karena keuntungan besar yang
meeka peroleh dari hasil
penangkapan ikan yang bebas
menjadi makin berani melakukan
maksiat dan pelanggaran perintah-2
agama yang menjurus kepada
kerusakkan akhlak dan moral
mereka.
Sementara para pemuka agama yang
melihat para nelayan itu makin
berani melanggar perintah Allah dan
melakukan kemungkaran dan
kemaksiatan di daerah mereka
sendiri masih rajin mendatangi
mereka dari masa ke semasa
memperingatkan mereka dan
memberi nasihat , kalau-2 masih
dapat ditarik ke jalan yang benar
dan bertaubat dari perbuatan
maksiat mereka. Akan tetapi
kekayaan yang mereka peroleh dari
hasil penangkapan yang berganda
menjadikan mata mereka buta untuk
melihta cahaya kebenaran, telinga
mereka pekak untuk mendengar
nasihat-2 para pemuka agama dan
lubuk hati mereka tersumbat oleh
nafsu kemaksiatan dan kefasiqan,
sehingga menjadikan sebahagian dari
pemuka dan penganjur agaam itu
berputus asa dan berkata kepada
sebahagian yang masih menaruh
harapan: "Mengapa kamu masih
menasihati orang-orang yang akan
dibinasakan oleh Allah dan akan
ditimpahi hati orang-orang yang
akan dibinasakan oleh Allah dan
akan ditimpahi azab yang sangat
keras."
Demikianlah pula Nabi Daud setelah
melihat bahawa segala nasihat dan
peringatan kepada kaumnya hanya
dianggap sebagai angin lalu atau
seakan suara di padang pasir belaka
dan melihat tiada harapan lagi
bahwa mereka akan sedar dan insaf
kembali maka berdoalah beliau
memohon kepada Allah agar
menggajar mereka dengan seksaan
dan azab yang setimpal.
doa Nabi Daud dikabulkan oleh Allah
dan terjadilah suatu gempa bumi
yang dahsyat yang membinasakan
orang-orang yang telah
membangkang dan berlaku zalim
terhadap diri mereka sendiri dengan
mengabaikan perintah Allah dan
perintah para hamba-Nya yang
soleh. Sementara mereka yang
mukmin dan soleh mendapat
perlindungan Allah dan terhindarlah
dari malapetaka yang melanda itu.
Beberapa Kurniaan Allah Kepada
Nabi Daud
Allah mengutusnya sebagai nabi dan
rasul mengurniainya nikmah,
kesempurnaan ilmu, ketelitian amal
perbuatan serta kebijaksanaan dalam
menyelesaikan perselisihan.
Kepadanya diturunkan kitab "Zabur",
kitab suci yang menghimpunkan
qasidah-2 da sajak-2 serta lagu-2
yang mengandungi tasbih dan pujian-
pujian kepada Allah, kisah umat-2
yang dahulu dan berita nabi-nabi
yang akan datang, di antaranya
berita tentang datangnya Nabi
Muhammad s.a.w.
Allah menundukkan gunung-2 dan
memerintahkannya bertasbih
mengikuti tasbih Nabi Daud tiap pagi
dan senja.
Burung-2 pun turut bertasbih
mengikuti tasbih Nabi Daud
berulang-ulang.
Nabi Daud diberi peringatan tentang
maksud suara atau bahasa burung-2.
Allah telah memberinya kekuatan
melunakkan besi, sehingga ia dapat
membuat baju-baju dan lingkaran-2
besi dengan tangannya tanpa
pertolongan api.
Nabi Daud telah diberikannya
kesempatan menjadi raja memimpin
kerajaan yang kuat yang tidak dapat
dikalahkan oleh musuh, bahkan
sebaliknya ia selalu memperolehi
kemenangan di atas semua
musuhnya.
Nabi Daud dikurniakan suara yang
merdu oleh Allah yang enak
didengar sehingga kini ia menjadi
kiasan bila seseorang bersuara
merdu dikatakan bahawa ia
memperolehi suara Nabi Daud.
Kisah Nabi Daud dan kisah Sabtunya
Bani Isra'il terdapat dalam Al-Quran
surah "Saba'" ayat 11, surah "An-
Nisa'" ayat 163, surah "Al-Isra'" ayat
55, surah "Shaad" ayat 17 sehingga
ayat 26 dan surah "Al-'Aaraaf" ayat
163 sehingga ayat 165.
Beberapa Pelajaran Dari Kisah Nabi
Daud A.S
Allah telah memberikan contoh
bahwa seseorang yang bagaimana
pun besar dan perkasanya yang
hanya menyandarkan diri kepada
kekuatan jasmaninya dapat
dikalahkan oleh orang yang lebih
lemah dengan hanya sesuatu benda
yang tidak bererti sebagaimana Daud
yang muda usia dan lemah fizikal
mengalahkan Jalout yang perkasa itu
dengan bersenjatakan batu sahaja.
Seorang yang lemah dan miskin tidak
patut berputus asa mencari hasil dan
memperoleh kejayaan dalam usaha
dan perjuangannya selama ia
bersandarkan kepada takwa dan
iman kepada Allah yang akan
melindunginya.
Kemenangan Daud atas Jalout tidak
menjadikan dia berlaku sombong dan
takabbur, bahkan sebaliknya ia
bersikap rendah hati dan lemah-
lembut terhadap kawan maupun
lawan
demikanlah kisah Nabi Daud AS
semoga bermanfaat.

Template by:

Free Blog Templates