Selasa, 23 Oktober 2012

Kerajaan Kediri

Pada tahun 1041 atau
963, Raja Airlangga memerintahkan
membagi kerajaan menjadi dua bagian.
Pembagian kerajaan tersebut dilakukan
oleh seorang Brahmana yang terkenal
akan kesaktiannya yaitu Mpu Bharada.
Kedua kerajaan tersebut dikenal dengan
sebutan Jenggala dan Panjalu, yang
dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai
Brantas. Tujuan pembagian kerajaan
menjadi dua agar tidak terjadi
pertikaian.
Kerajaan Jenggala meliputi daerah
Malang dan delta sungai Brantas dengan
pelabuhannya Surabaya, Rembang, dan
Pasuruhan, ibukotanya Kahuripan,
sedangkan Panjalu kemudian dikenal
dengan nama Kediri meliputi Kediri,
Madiun, dan ibukotanya Daha.
Berdasarkan prasasti-prasasti yang
ditemukan masing-masing kerajaan
saling merasa berhak atas seluruh tahta
Airlangga sehingga terjadilah
peperangan.
Pada awalnya perang saudara tersebut,
dimenangkan oleh Jenggala tetapi pada
perkembangan selanjutnya Panjalu/
Kediri yang memenangkan peperangan
dan menguasai seluruh tahta Airlangga.
Dengan demikian di Jawa Timur
berdirilah kerajaan Kediri dimana bukti-
bukti yang menjelaskan kerajaan
tersebut, selain ditemukannya prasasti-
prasasti juga melalui kitabkitab sastra.
Sumber-sumber Prasasti
Prasasti-prasasti menjelaskan kerajaan
Kediri antara lain yaitu:
1. Prasasti Banjaran berangka tahun
1052 M menjelaskan kemenangan
Panjalu atas Jenggala.
2. Prasasti Hantang berangka tahun
1052 M menjelaskan Panjalu pada masa
Jayabaya.
Selain dari prasasti-prasasti tersebut di
atas, sebenarnya ada lagi prasasti-
prasasti yang lain tetapi tidak begitu
jelas. Dan yang banyak menjelaskan
tentang kerajaan Kediri adalah hasil
karya berupa kitab sastra. Hasil karya
sastra tersebut adalah kitab Kakawin
Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah
dan Mpu Panuluh yang menceritakan
tentang kemenangan Kediri/Panjalu atas
Jenggala.
Di samping kitab sastra maupun prasasti
tersebut di atas, juga ditemukan berita
Cina yang banyak memberikan
gambaran tentang kehidupan
masyarakat dan pemerintahan Kediri
yang tidak ditemukan dari sumber yang
lain.
Berita Cina tersebut disusun melalui
kitab yang berjudul Ling-mai-tai-ta yang
ditulis oleh Cho-ku-Fei tahun 1178 M
dan kitab Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh
Chau-Ju-Kua tahun 1225 M
Dengan demikian melalui prasasti, kitab
sastra maupun kitab yang ditulis orang-
orang Cina tersebut perkembangan
Kediri dalam berbagai aspek kehidupan
dapat diketahui.
Dalam perkembangan politiknya wilayah
kekuasaan Kediri masih sama seperti
kekuasaan raja Airlangga, dan raja-
rajanya banyak yang dikenal dalam
sejarah karena memiliki lencana atau
lambang sendiri.
Raja-raja yang terkenal dari kerajaan
Kediri antara lain Raja Kameswara (1115
- 1130 M) mempergunakan lancana
Candrakapale yaitu tengkorak yang
bertaring pada masa pemerintahannya
banyak dihasilkan karya-karya sastra,
bahkan kiasan hidupnya dikenal dalam
Cerita Panji.
Raja selanjutnya adalah Jayabaya
memerintah tahun 1130 - 1160
mempergunakan lancana Narasingha
yaitu setengah manusia setengah singa
pada masa pemerintahannya Kediri
mencapai puncak kebesarannya dan juga
banyak dihasilkan karya sastra terutama
ramalannya tentang Indonesia antara
lain akan datangnya Ratu Adil. Tahun
1181 pemerintahan raja Sri Gandra
terdapat sesuatu yang menarik pada
masa, yaitu untuk pertama kalinya
didapatkan orang-orang terkemuka
mempergunakan nama-nama binatang
sebagai namanya yaitu seperti Kebo
Salawah, Manjangan Puguh, Macan Putih,
Gajah Kuning, dsb. Selanjutnya tahun
1200 - 1222 yang menjadi raja Kediri
adalah Kertajaya. Ia memakai lancana
Garudamuka seperti Ria Airlangga,
sayangnya raja ini kurang bijaksana,
sehingga tidak disukai oleh rakyat
terutama kaum Brahmana. Hal inilah
yang akhirnya menjadi penyebab
berakhirnya kerajaan Kediri, karena
kaum Brahmana meminta perlindungan
kepada Ken Arok di Singosari sehingga
tahun 1222 Ken Arok berhasil
menghancurkan Kediri.
Demikianlah uraian materi tentang
kehidupan politik raja Kediri. Dari
penjelasan tersebut apakah Anda sudah
memahami? Kalau Anda sudah paham
simak kembali uraian materi
selanjutnya. Perekonomian Kediri
bersumber atas usaha perdagangan,
peternakan, dan pertanian. Kediri
terkenal sebagai penghasil beras, kapas
dan ulat sutra. Dengan demikian
dipandang dari aspek ekonomi, kerajaan
Kediri cukup makmur. Hal ini terlihat
dari kemampuan kerajaan memberikan
penghasilan tetap kepada para
pegawainya walaupun hanya dibayar
dengan hasil bumi. Demikian keterangan
yang diperoleh berdasarkan kitab Chi-
Fan-Chi dan kitab Ling-wai-tai-ta.
Kehidupan sosial masyarakat Kediri
cukup baik karena kesejahteraan rakyat
meningkat masyarakat hidup tenang, hal
ini terlihat dari rumah-rumah rakyatnya
yang baik, bersih, dan rapi, dan berlantai
ubin yang berwarna kuning, dan hijau
serta orang-orang Kediri telah memakai
kain sampai di bawah lutut. Dengan
kehidupan masyarakatnya yang aman
dan damai maka seni dapat berkembang
antara lain kesusastraan yang paling
maju adalah seni sastra. Hal ini terlihat
dari banyaknya hasil sastra yang dapat
Anda ketahui sampai sekarang.
Hasil sastra tersebut, selain seperti yang
telah dijelaskan pada uraian materi
sebelumnya juga masih banyak kitab
sastra yang lain yaitu seperti kitab
Hariwangsa dan Gatotkacasraya yang
ditulis Mpu Panuluh pada masa
Jayabaya, kitab Simaradahana karya Mpu
Darmaja, kitab Lubdaka dan
Wertasancaya karya Mpu Tan Akung,
kitab Kresnayana karya Mpu Triguna dan
kitab Sumanasantaka karya Mpu
Monaguna. Semuanya itu dihasilkan
pada masa pemerintahan Kameswara.
Sumber:http://www.e-dukasi.net/mol/
mo_full.php?
moid=118&fname=sej106_10.htm

Kerajaan Medang Kamulan

Berdasarkan penemuan beberapa
prasasti, dapat diketahui bahwa
Kerajaan Medang Kamulan terletak
di muara Sungai Brantas. Ibukotanya
bernama Watan Mas. Kerajaan itu
didirikan oleh Mpu Sindok, setelah ia
memindahkan pusat
pemerintahannya dari Jawa Tengah
ke Jawa Timur. Wilayah kekuasaan
Kerajaan Medang Kamulan pada
masa pemerintahan Mpu Sindok
mencakup Nganjuk di sebelah barat,
Pasuruan di sebelah timur, Surabaya
di sebelah utara, dan Malang di
sebelah selatan. Dalam
perkembang-an selanjutnya, wilayah
kekuasaan Kerajaan Medang
Kamulan mencakup hampir seluruh
wilayah Jawa Timur.
a. Sumber Sejarah
Sumber sejarah Kerajaan Medang
Kamulan berasal dari berita asing
dan prasasti-prasasti.
3 Berita Asing
Berita asing tentang keberadaan
Kerajaan Medang Kamulan di Jawa
Timur dapat diketahui melalui berita
dari India dan Cina. Berita dari India
mengatakan bahwa Kerajaan
Sriwijaya menjalin hubungan
persahabatan dengan Kerajaan Chola
untuk membendung dan
menghalangi kemajuan Kerajaan
Medang Kamulan pada masa
pemerintahan Raja Dharmawangsa.
Berita Cina berasal dari catatan-
catatan yang ditulis pada zaman
Dinasti Sung. Catatan-catatan
Kerajaan Sung itu menyatakan
bahwa antara kerajaan yang berada
di Jawa dan Kerajaan Sriwijaya
sedang terjadi permusuhan,
sehingga ketika Duta Sriwijaya
pulang dari Cina (tahun 990 M),
terpaksa harus tinggal dulu di Campa
sampai peperangan itu reda. Pada
tahun 992 M, pasukan dari Jawa
telah meninggalkan Sriwijaya dan
Kerajaan Medang Kamulan dapat
memajukan pelayaran dan
perdagangan. Di samping itu, tahun
992 M tercatat pada catatan-catatan
negeri Cina tentang datangnya duta
persahabatan dari Jawa.
Berita Prasasti
Beberapa prasasti yang
mengungkapkan Kerajaan Medang
Kamulan antara lain:
• Prasasti dari Mpu Sindok, dari Desa
Tangeran (daerah Jombang) tahun
933 M menyatakan bahwa Raja Mpu
Sindok memerintah bersama
permaisurinya Sri Wardhani Pu Kbin.
• Prasasti Mpu Sindok dari daerah
Bangil menyatakan bahwa Raja Mpu
Sindok memerintah pembuatan satu
candi sebagai tempat pendharmaan
ayahnya dari permaisurinya yang
bernama Rakryan Bawang.
• Prasasti Mpu Sindok dari Lor
(dekat Nganjuk) tahun 939 M
menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok
memerintah pembuatan candi yang
bernama Jayamrata dan Jayastambho
(tugu kemenangan) di Desa Anyok
Lodang.
• Prasasti Calcuta, prasasti dari Raja
Airlangga yang menyebutkan silsilah
keturunan dari Raja Mpu Sindok.
b. Kehidupan Politik
Sejak berdiri dan berkembangnya
Kerajaan Medang Kamulan, terdapat
beberapa raja yang diketahui
memerintah kerajaan ini. Raja-raja
tersebut adalah sebagai berikut.
Raja Mpu Sindok Raja Mpu Sindok
memerintah Kerajaan Medang
Kamulan dengan gelar Mpu Sindok
Sri Isyanatunggadewa. Dari gelar
Mpu Sindok itulah diambil nama
Dinasti Isyana.
Raja Mpu Sindok termasuk
keturunan Raja Dinasti Sanjaya
(Mataram) di Jawa Tengah. Oleh
karena kondisi Jawa Tengah tidak
memungkinkan bertahtanya Dinasti
Sanjaya akibat desakan Kerajaan
Sriwijaya, maka Mpu Sindok
memindahkan pusat
pemerintahannya dari Jawa Tengah
ke Jawa Timur. Bahkan dalam
prasasti terakhir, Mpu Sindok adalah
peletak dasar Kerajaan Medang
Kamulan di Jawa Timur. Namun,
setelah Mpu Sindok turun tahta,
keadaan Jawa Timur dapat dikatakan
suram, karena tidak adanya prasasti-
prasasti yang menceritakan kondisi
Jawa Timur. Baru setelah Airlangga
naik tahta muncul prasasti-prasasti
yang dijadikan sumber untuk
mengetahui keberadaan Kerajaan
Medang Kamulan di Jawa Timur.
Dharmawangsa Raja Dharmawangsa
dikenal sebagai salah seorang raja
yang memiliki pandangan politik
yang tajam. Kebesaran
Dharmawangsa tampak jelas pada
politik luar negerinya. Raja
Dharmawangsa percaya bahwa
kedudukan ekonomi Kerajaan
Sriwijaya yang kuat merupakan
ancaman bagi perkembangan
Kerajaan Medang Kamulan. Oleh
karena itu. Raja Dharmawangsa
mengerahkan seluruh angkatan
lautnya untuk menduduki dan
menguasai Kerajaan Sriwijaya. Akan
tetapi, selang beberapa tahun
kemudian, Sriwijaya bangkit dan
mengadakan pembalasan terhadap
Kerajaan Medang Kamulan yang
masih diperintah oleh
Dharmawangsa.
Dalam usaha menundukkan Kerajaan
Medang Kamulan, Kerajaan Sriwijaya
mengadakan hubungan dengan
kerajaan kecil yang ada di Jawa, yaitu
dengan Kerajaan Wurawari.
Serangan dari Kerajaan Wurawari
itulah yang mengakibatkan
hancurnya Kerajaan Medang
Kamulan (1016 M). Serangan itu
terjadi ketika Raja Dharmawangsa
melaksanakan upacara pernikahan
putrinya dengan Airlangga (dari
Bali). Dalam serangan itu. Raja
Dharmawangsa beserta kerabat
istana tewas. Namun Airlangga dapat
melarikan diri bersama pengikutnya
yang setia, yaitu Narottama.
Airlangga Dalam prasasti Calcuta
disebutkan bahwa Raja Airlangga
masih termasuk keturunan Raja Mpu
Sindok dari pihak ibunya yang
bernama Mahendradata (Gunapria
Dharmapatni) yang menikah dengan
Raja Udayana.
Ketika Airlangga berusia 16 tahun ia
dinikahkan dengan putri
Dharmawangsa. Pada saat upacara
pernikahan itulah terjadi serangan
dari Kerajaan Wurawari, yang
mengakibatkan hancurnya Kerajaan
Medang Kamulan. Seperti sudah
disebut, Airlangga berhasil melarikan
diri bersama pengikutnya yang setia,
yaitu Narottama ke dalam hutan. Di
tengah hutan Airlangga hidup seperti
seorang pertapa dengan
menanggalkan pakaian
kebesarannya.
Selama tiga tahun (1016-1019 M),
Airlangga digembleng baik lahir
maupun batin di hutan Wonogiri.
Kemudian, atas tuntutan dari
rakyatnya, pada tahun 1019 M
Airlangga bersedia dinobatkan
menjadi raja untuk meneruskan
tradisi Dinasti Isyana, dengan gelar
Rakai Halu Sri Lakeswara
Dharmawangsa Airlangga Teguh
Ananta Wirakramatunggadewa.
Antara tahun 1019-1028 M,
Airlangga berusaha mempersiapkan
diri agar dapat menghadapi lawan-
lawan kerajaannya. Dengan
persiapan yang cukup, antara tahun
1028-1035 M, Airlangga berjuang
untuk mengembalikan kewibawaan
kerajaan. Airlangga menghadapi
lawan-lawan yang cukup kuat seperti
Kerajaan Wurawari, Kerajaan
Wengker, dan Raja Futri dari selatan
yang bernama Rangda Indirah.
Peperangan menghadapi Rangda
Indirah ini diceritakan melalui cerita
yang berjudul Calon Arang.
Setelah Airlangga berhasil
mengalahkan musuh-musuhnya, ia
mulai membangun kerajaan di segala
bidang kehidupan untuk
kemakmuran rakyatnya. Dalam
waktu singkat Kerajaan Medang
Kamulan berhasil meningkatkan
kesejahteraannya, keadaan
masyarakatnya stabil. Setelah
tercapai kestabilan dan
kesejahteraan kerajaan, pada tahun
1042 M Raja Airlangga memasuki
masa kependetaan. Tahta kerajaan
diserahkan kepada seorang putrinya
yang terlahir dari permaisuri, tetapi
putrinya telah memilih menjadi
seorang pertapa dengan gelar Ratu
Giri Putri, maka tahta kerajaan
diserahkan kepada kedua orang
putra yang terlahir dari selir
Airlangga. Selanjutnya, Kerajaan
Medang Kamulan terbagi dua, untuk
menghindari perang saudara, yaitu
Kerajaan Jenggala dan Kerajaan
Kediri (Panjalu).

KERAJAAN MEDANG ( KERAJAAN MATARAM KUNO )

Kerajaan Medang (atau sering juga
disebut Kerajaan Mataram Kuno atau
Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama
sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa
Tengah pada abad ke-8, kemudian
berpindah ke Jawa Timur pada abad
ke-10. Para raja kerajaan ini banyak
meninggalkan bukti sejarah berupa
prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa
Tengah dan Jawa Timur , serta
membangun banyak candi baik yang
bercorak Hindu maupun Buddha .
Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada
awal abad ke-11.

NAMA
Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang
hanya lazim dipakai untuk menyebut
periode Jawa Timur saja, padahal
berdasarkan prasasti-prasasti yang telah
ditemukan, nama Medang sudah dikenal
sejak periode sebelumnya, yaitu periode
Jawa Tengah.
Sementara itu, nama yang lazim dipakai
untuk menyebut Kerajaan Medang
periode Jawa Tengah adalah Kerajaan
Mataram, yaitu merujuk kepada salah
daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang
untuk membedakannya dengan Kerajaan
Mataram Islam yang berdiri pada abad
ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa
Tengah biasa pula disebut dengan nama
Kerajaan Mataram Kuno atau
Kerajaan Mataram Hindu.

PUSAT KERAJAAN MATARAM KUNO
Pada umumnya para sejarawan
menyebut ada tiga dinasti yang pernah
berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu
Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra
pada periode Jawa Tengah, serta Wangsa
Isyana pada periode Jawa Timur.
Istilah Wangsa Sanjaya merujuk pada
nama raja pertama Medang, yaitu
Sanjaya. Dinasti ini menganut agama
Hindu aliran Siwa. Menurut teori van
Naerssen, pada masa pemerintahan
Rakai Panangkaran (pengganti Sanjaya
sekitar tahun 770 -an), kekuasaan atas
Medang direbut oleh Wangsa Sailendra
yang beragama Buddha Mahayana .
Mulai saat itu Wangsa Sailendra
berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil
pula menguasai Kerajaan Sriwijaya di
Pulau Sumatra . Sampai akhirnya, sekitar
tahun 840 -an, seorang keturunan
Sanjaya bernama Rakai Pikatan berhasil
menikahi Pramodawardhani putri
mahkota Wangsa Sailendra. Berkat
perkawinan itu ia bisa menjadi raja
Medang, dan memindahkan istananya ke
Mamrati. Peristiwa tersebut dianggap
sebagai awal kebangkitan kembali
Wangsa Sanjaya.
Menurut teori Bosch, nama raja-raja
Medang dalam Prasasti Mantyasih
dianggap sebagai anggota Wangsa
Sanjaya secara keseluruhan. Sementara
itu Slamet Muljana berpendapat bahwa
daftar tersebut adalah daftar raja-raja
yang pernah berkuasa di Medang, dan
bukan daftar silsilah keturunan Sanjaya.
Contoh yang diajukan Slamet Muljana
adalah Rakai Panangkaran yang
diyakininya bukan putra Sanjaya.
Alasannya ialah, prasasti Kalasan tahun
778 memuji Rakai Panangkaran sebagai
“permata wangsa
Sailendra” (Sailendrawangsatilaka).
Dengan demikian pendapat ini menolak
teori van Naerssen tentang kekalahan
Rakai Panangkaran oleh seorang raja
Sailendra.
Menurut teori Slamet Muljana, raja-raja
Medang versi Prasasti Mantyasih mulai
dari Rakai Panangkaran sampai dengan
Rakai Garung adalah anggota Wangsa
Sailendra. Sedangkan kebangkitan
Wangsa Sanjaya baru dimulai sejak Rakai
Pikatan naik takhta menggantikan Rakai
Garung.
Istilah Rakai pada zaman Medang identik
dengan Bhre pada zaman Majapahit,
yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar
Rakai Panangkaran sama artinya dengan
“Penguasa di Panangkaran”. Nama
aslinya ditemukan dalam prasasti
Kalasan, yaitu Dyah Pancapana.
Slamet Muljana kemudian
mengidentifikasi Rakai Panunggalan
sampai Rakai Garung dengan nama-
nama raja Wangsa Sailendra yang telah
diketahui, misalnya Dharanindra
ataupun Samaratungga. yang selama ini
cenderung dianggap bukan bagian dari
daftar para raja versi Prasasti Mantyasih.
Sementara itu, dinasti ketiga yang
berkuasa di Medang adalah Wangsa
Isana yang baru muncul pada ‘’periode
Jawa Timur’’. Dinasti ini didirikan oleh
Mpu Sindok yang membangun istana
baru di Tamwlang sekitar tahun 929 .
Dalam prasasti-prasastinya, Mpu Sindok
menyebut dengan tegas bahwa
kerajaannya adalah kelanjutan dari
Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi
Mataram.

DAFTAR KERAJAAN MATARAM KUNO
1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Mataram
Kuno
2. Rakai Panangkaran , awal
berkuasanya Wangsa Sailendra
3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
4. Rakai Warak alias Samaragrawira
5. Rakai Garung alias Samaratungga
6. Rakai Pikatan suami
Pramodawardhani, awal kebangkitan
Wangsa Sanjaya
7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
8. Rakai Watuhumalang
9. Rakai Watukura Dyah Balitung
10. Mpu Daksa
11. Rakai Layang Dyah Tulodong
12. Rakai Sumba Dyah Wawa
13. Mpu Sindok , awal periode Jawa
Timur
14. Sri Lokapala suami Sri
Isanatunggawijaya
15. Makuthawangsawardhana
16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan
Mataram Kuno berakhir

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya merupakan
kerajaan maritim yang terkuat di
pulau Sumatera dan termasuk salah
satu kerajaan yang berpengaruh di
Nusantara karna luas nya daerah
kekuasaan Kerajaan Sriwijaya mulai
dari Kamboja, Thailand Selatan,
Semenanjung Malaya, Sumatera,
Jawa juga Pesisir Kalimantan. Nama
Sriwijaya sendiri di ambil dari
Bahasa sangsekerta Sri berarti
Gemilang dan Wijaya Berarti
Kejayaan, maka makna dari nama
Sriwijaya adalah Kejayaan yang
Gemilang. tidak ada yang tahu
dengan pasti kapan awal
berkembangnya dan kapan pula
berakhirnya kerajaan Sriwijaya
namun diperkirakan pada abad ke-7
M Kerajaan Sriwijaya telah berdiri.
Urutan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Tahun 671 M - I Ching singgah di
Sriwijaya
tahun 671 adalah tahun awal yang
membutikan adanya Kerajaan
Sriwijaya . bukti ini di dapat dari
seorang Bhiksu Buddha Tiongkok
yang bernama I Ching yang sedang
berkelana lewat laut menuju india
untuk mendapatkan teks agama
buddha dalam bahasa sangsekerta
melalui Jalur Sutra atau jalur
perdagangan untuk kemudian di
bawa ke tiongkok dan di
terjemahkan ke dalam bahasa
Tionghoa. semasa perjalanan nya ini
lah I Ching singgah di Sriwijaya pada
Tahun 671 dan menetap selama 6
bulan di sriwijaya kemudian
melanjutkan perjalanan nya ke
Malayu yang sekarang disebut
dengan jambi menetap pula di jambi
selama 2 bulan
Gambaran I Tsing
tentang Sriwijaya
".... banyak raja dan
pemimpin yang berada
di pulau-pulau pada
Lautan Selatan percaya
dan mengagumi
Buddha, dihati mereka
telah tertanam
perbuatan baik. Di
dalam benteng kota
Sriwijaya dipenuhi lebih
dari 1000 biksu Budha,
yang belajar dengan
tekun dan
mengamalkannya
dengan baik.... Jika
seorang biarawan Cina
ingin pergi ke India
untuk belajar Sabda,
lebih baik ia tinggal dulu
di sini selama satu atau
dua tahun untuk
mendalami ilmunya
sebelum dilanjutkan di
India".
Tahun 683 M - Prasasti Kedukan
Bukit
Prasasti kedukan bukit yang
ditemukan oleh M. Batunburg pada
tanggal 29 November 1920 di kebun
Pak H. Jahri tepi sungai Tatang, desa
Kedukan Bukit di kaki Bukit
Siguntang sebelah barat
daya Palembang. Prasasti yang
berbentuk batu kecil berukuran 45 ×
80 cm ini ditulis dalam aksara
Pallawa, menggunakan bahasa
Melayu Kuno adalah sebuah Prasasti
yang memperjelas adanya Kerajaan
Sriwijaya. Prasasti ini Sangat Jelas
Menggambarkan Kejadian yang
terjadi pada saat itu.
Isi prasasti kedukan
bukit yang telah di
terjemahkan:
tanggal 23 April 683
dapunta hiyang naik ke
perahu untuk
melakukan penyerangan
dan sukses dalam
Penyerangannya. 19
Mei 683 Dapunta
Hiyang berlepas dari
minanga membawa
20.000 bala tentara
dengan perbekalan 200
peti di perahunya.
Rombongan pun tiba di
Mukha Upang dengan
suka cita. 17 Juni 683
Dapunta Hyang datang
membuat wanua
Tahun 684 M - Prasasti Talang
Tuo
Prasasti ini ditemukanpada tanggal
17 November 1920 di kaki bukit
siguntang oleh Louis Constant
Westenenk. Prasasti yang memiliki
bidang datar berukuran 50cmX80cm
ini juga dipahat menggunakan
Aksara Palawa dalam bahasa melayu
kuno. Dalam prasasti Talang Tuo
yang bertarikh 684 M, disebutkan
mengenai pembangunan taman
oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa
untuk semua makhluk berisi pohon
pohon yang buahnya dapat dimakan,
Taman tersebut diberi nama
Sriksetra.
Tahun 686 M - Prasasti kota
kapur
Prasasti yang ditulis dalam aksara
Pallawa dan bahasa Melayu Kuno
dipahatkan pada sebuah batu yang
berbentuk tugu bersegi-segi dengan
ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm
pada bagian dasar, dan 19 cm pada
bagian puncak ditemukan di pesisir
Barat Pulau Bangka, dinamakan
Prasasti Kota Kapur karna sesuai
dengan Tempat di temukan nya
yaitu di dusun kecil di Pesisir barat
Pulau Bangka yang bernama kota
Kapur. Prasasti yang ditemukan
oleh J.K Van Der Meulen pada bulan
Desember 1892 dan di terjemahkan
oleh George Coedes orang yang
sama yang telah menerjemahkan
Prasasti Kedukan Bukit ini berisi
tentang Kutukan bagi siapapun yang
memberontak kepada Sriwijaya
serta berisi Hal hal baik untuk yang
setia kepada Sriwijaya, dalam
Prasasti Kota Kapur ini juga jelas di
ucapkan tanggal 28 Februari 686
Bala tentara Sriwijaya berangkat
untuk Menyerang Bumi jawa yang
tidak takluk kepada Sriwijaya
Tahun 718 M - Sri Indrawarman
Raja Sriwijaya masuk islam
Hal ini di dasari oleh Surat yang
dikirimkan Sri Indrawarman yang
saat itu berstatus sebagai Maharaja
Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin
Abdul Aziz dari bani Umayyah.
dalam surat itu disebutkan dari
seorang Maharaja, yang memiliki
ribuan gajah, memiliki rempah-
rempah dan wewangian serta kapur
barus, dengan kotanya yang dilalui
oleh dua sungai sekaligus untuk
mengairi lahan pertanian mereka.
Bersamaan dengan surat itu juga
dikirimkan Hadiah untuk Khalifah
Tahun 717-720 M - Surat kedua
Ke Suriah meminta Da'i ke
Sriwijaya
Surat kedua yang dikirimkan Raja
Sriwijaya ini di dokumentasikan oleh
Adb Rabbih dalam karya Al-Iqdul
farid. isi potongan surat tersebut
berbunyi :
Dari Raja di raja... yang
adalah keturunan seribu
raja.. kepada Raja Arab
yang tidak
menyekutukan tuhan-
tuhan yang lain dengan
Tuhan. Saya telah
mengirimkan kepada
Anda hadiah, yang
sebenarnya merupakan
hadiah yang tak begitu
banyak, tetapi sekedar
tanda persahabatan;
dan saya ingin Anda
mengirimkan kepada
saya seseorang yang
dapat mengajarkan
Islam kepada saya, dan
menjelaskan kepada
saya hukum-hukumnya.
Tahun 724 M - Sri Indrawarman
mengirim hadiah ke Cina
Sama hal nya dengan yang di
lakukan Raja Sri Indrawarman
kepada Raja Arab pada kisaran
Tahun 717-720 M. Raja Sri
Indrawarman juga mengirimkan
hadiah kepada kaisar Cina
berupa ts'engchi
Tahun 775 -787 M - Dharanindra
Mengusasi Sriwijaya
Hal ini di dasari oleh sebuah
Prasasti yang ditemukan di sebuah
tempat yang bernama Ligor saat ini
tempat tersebut bernama Nakhon Si
Thammarat, selatan Thailand.
Prasasti Ligor memiliki 2 Sisi. Sisi
Pertama disebut sebagai Ligor A dan
Sisi sebaliknya disebut Ligor B. Ligor
A ditulis pada tahun 775 oleh raja
Kerajaan Sriwijaya, sedangkan Ligor
B ditulis oleh Wangsa Sailendra
setelah Menaklukkan Sriwijaya
Tahun 792 - 835 M -
Samaratungga Memerintah
Sriwijaya
di kisaran Tahun ini lah di perkirakan
Samaratungga menjadi Raja di
Kerajaan Sriwijaya dengan
mengedepankan Agama dan
Budaya, terbukti di bangunnya candi
Borubudur pada tahun 825 M oleh
Samaratungga. Pernikahan
Samaratungga dengan Dewi Tara
Lahirlah Balaputradewa sebagai
Pewaris Tahta Kerajaan Sriwijaya
Tahun 860 M - Balaputradewa
Naik Tahta
Prasasti Nalanda berangka tahun
860 ditemukan di Nalanda, Bihar,
India. adalah bukti bahwa
Balaputradewa pernah menjadi Raja
di Kerajaan Sriwijaya, Penafsiran
Manuskrip Prasasti Nalaya
berbunyi : " Sri Maharaja di
Suwarnadwipa, Balaputradewa anak
Samaragrawira, cucu dari
sailendravamsatilaka (mustika
keluarga sailendra) dengan julukan
sriviravairimathana (pembunuh
pahlawan musuh), raja Jawa yang
kawin dengan Dewi Tara, anak
Dharmasetu"
Tahun 990 M - Serangan dari raja
Dharmawangsa Teguh dari Jawa
Serangan raja Dharmawangsa ini di
dasari oleh berita cina dari dinasti
song, di kisahkan dalam berita cina
bahwa Sriwijaya terlibat persaingan
dengan Kerajaan Medang untuk
menguasai Asia tenggara, kedua
Kerajaan ini saling mengirimkan
duta ke cina, utusan Sriwijaya
berangkat pada tahun 988 tertahan
di kanton ketika hendak pulang,
karna negri Sriwijaya di serang
tentara Kerajaan Medang, Pada
Tahun 992 duta Sriwijaya mencoba
pulang kembali namun tertahan di
Campa karna negri Sriwijaya belum
aman, duta ini meminta Kaisar Song
untuk menyatakan bahwa Sriwijaya
berada dalam perlingdungan cina,
untusan Kerajaan Medang tiba di
cina tahun 992 M, dikirim setelah
Dharmawangsa berhasil
menaklukkan Sriwijaya.
Tahun 1006 / 1016 - Wafatnya
Dharmawangsa Teguh
dalam Prasasti Pucangan disebutkan
sebuah peristiwa Mahapralaya yaitu
peristiwa hancurnya Kerajaan
Medang. Tentara Aji Wurawari dari
Lwaram yang di perkirakan sekutu
Sriwijaya menyerang Istana raja
Dharmawangsa Teguh di  Wwatan.
Dharmawangsa Teguh meninggal
pada peristiwa tersebut.
Tahun  1003 M - Sri
Cudamaniwarmadewa
keterangan ini di dapat dari sebuah
manuskrip nepal pada abad ke 11
yang memuji negara Sriwijaya
sebagai pusat kegiatan utama agama
budha, dan memiliki area indah
lokananantha di sriwayapura. Dan
sebuah kronik
Tibet yang ditulis pada abad ke 11
bernama durbodhaloka
menyebutkan pula nama maharaja
sri Cudamanirwarman dari
sriwijayanagara di suwardawipa.
Tahun 1008 M - Sri Mara-
Vijayottunggawarman
Penemuan Prasasti Leiden yang
tertulis pada lempengan tembaga
berangka tahun 1005 yang terdiri
dari bahasa Sansekerta dan
berbahasa Tamil. sesuai dengan
tempat di temukan nya yaitu di
KITLV Leiden, Belanda. maka
Prasasti ini dinamakan Prasasti
Leiden.
Nama Sri Mara-
Vihayottunggawarman di sebutkan
dalam Prasasti Leiden sebagai anak
dari Sri Cudamaniwarmadewa yang
memiliki hubungan baik dengan
dinasti Chola dari Tamil, selatan
India
Terjemahan Prasasti
Leiden :
Raja Sriwijaya, Sri Mara-
Vijayottunggawarman
putra Sri Cudamani
Warmadewa di Kataha
telah membangun
sebuah vihara yang
dinamakan dengan
Vihara Culamanivarmma
Tahun 1025 M - Kehancuran
Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya Hancur Diserang oleh
Rajendra Chola dari Kerajaan Chola
serangan Rajendra Chola I dari
Koromandel India selatan,
didasarkan pada bait akhir prasasti
Tanjoreyang menceritakan tentang
penaklukan yang dilakukan Kerajaan
Chola atas beberapa kawasan
termasuk beberapa kawasan di
nusantara serta penawanan raja
Sangrama-Vijayottunggawarman dari
Sriwijaya.

Kerajaan Melayu

Di Pulau Sumatera, Propinsi Jambi
merupakan bekas wilayah Kesultanan
Islam Melayu Jambi (1500-1901).
Kesultanan ini memang tidak
berhubungan secara langsung dengan 2
kerajaan Hindu-Budha pra-Islam.
Sekitar Abad 6 – awal 7 M berdiri
KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua)
terletak di Muara Tembesi (kini masuk
wilayah Batanghari, Jambi). Catatan
Dinasti Tang mengatakan bahwa awak
Abad 7 M. dan lagi pada abad 9 M Jambi
mengirim duta/utusan ke Empayar
China ( Wang Gungwu 1958;74).
Kerajaan ini bersaing dengan SRI
WIJAYA untuk menjadi pusat
perdagangan. Letak Malayu yang lebih
dekat ke jalur pelayaran Selat Melaka
menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak
sehingga perlu menyerang Malayu
sehingga akhirnya tunduk kepada Sri
Wijaya. Muaro jambi, sebuah kompleks
percandian di hilir Jambi mungkin dulu
bekas pusat belajar agama Budha
sebagaimana catatan pendeta Cina I-
Tsing yang berlayar dari India pada
tahun 671. Ia belajar di Sriwijaya selama
4 tahun dan kembali pada tahun 689
bersama empat pendeta lain untuk
menulis dua buku tentang ziarah Budha.
Saat itulah ia tulis bahwa Kerajaan
Malayu kini telah menjadi bahagian Sri
Wijaya.
Abad ke 11 M setelah Sri Wijaya mulai
pudar, ibunegeri dipindahkan ke Jambi
( Wolters 1970:2 ). Inilah KERAJAAN
MALAYU (Melayu Muda) atau
DHARMASRAYA berdiri di Muara Jambi.
Sebagai sebuah bandar yang besar,
Jambi juga menghasilkan berbagai
rempah-rempahan dan kayu-kayuan.
Sebaliknya dari pedagang Arab, mereka
membeli kapas, kain dan pedang. Dari
Cina, sutera dan benang emas, sebagai
bahan baku kain tenun songket ( Hirt &
Rockhill 1964 ; 60-2 ). Tahun 1278
Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di
Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan
membawa serta putri dari Raja Malayu
untuk dinikahkan dengan Raja Singasari.
Hasil perkawinan ini adalah seorang
pangeran bernama Adityawarman, yang
setelah cukup umur dinobatkan sebagai
Raja Malayu.  Pusat kerajaan inilah yang
kemudian dipindahkan oleh
Adityawarman ke Pagaruyung dan
menjadi raja pertama sekitar tahun
1347. Di Abad 15, Islam mulai menyebar
ke Nusantara.
(http://sriandalas.multiply.com)

Kerajaan Holing

1. Lokasi Kerajaan
Berita Cina berasal dari Dinasti T’ang yang
menyebutkan bahwa letak Kerajaan Holing
berbatasan dengan Laut Sebelah Selatan,
Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, Po-
Li (Bali) sebelah Timur dan To-Po-Teng di
sebelah Barat. Nama lain dari Holing
adalah Cho-Po (Jawa), sehingga
berdasarkan berita tersebut dapat
disimpulkan bahwa Kerajaan Holing
terletak di Pulau Jawa, khususnya Jawa
Tengah.
J.L. Moens dalam menentukan letak
Kerajaan Holing meninjau dari segi
perekonomian, yaitu pelayaran dan
perdagangan. Menurutnya, Kerajaan
Holing selayaknya terletak di tepi Selat
Malaka, yaitu di Semenanjung Malaya.
Alasannya, Selat Malaka merupakan selat
yang sangat ramai dalam aktifitas
pelayaran perdagangan saat itu. Pendapat
J.L. Moens itu diperkuat dengan
ditemukannya sebuah daerah di
Semenajung Malaya yang bernama daerah
Keling.
2. Sumber Sejarah
I-Tsing menyebutkan bahwa seorang
temannya bernama Hui-Ning dengan
pembantunya bernama Yunki pergi ke
Holing tahun 664/665 M untuk
mempelajari ajaran agama Budha. Ia juga
menterjemahkan kitab suci agama Budha
dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina.
Dalam menerjemahkan kitab itu, ia
dibantu oleh pendeta agama Budha dari
Holing yang bernama Jnanabhadra.
Menurut keterangan dari Dinasti Sung,
kitab yang diterjemahkan oleh Hui-Ning
adalah bagian terakhir kitab Parinirvana
yang mengisahkan tentang pembukaan
jenazah Sang Budha.
3. Kehidupan Politik
Berdasarkan berita Cina disebutkan bahwa
Kerajaan Holing diperintah oleh seorang
raja putri yang bernama Ratu Sima.
Pemerintahan Ratu Sima sangat keras,
namun adil dan bijaksana. Rakyat tunduk
dan taat terhadap segala perintah Ratu
Sima. Bahkan tidak seorang pun rakyat
atau pejabat kerajaan yang berani
melanggar segala perintahnya.
4. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan
Holing sudah teratur rapi. Hal ini
disebabkan karena sistem pemerintahan
yang keras dari Ratu Sima. Di samping ini
juga sangat adil dan bijaksana dalam
memutuskan suatu masalah. Rakyat
sangat menghormati dan mentaati segala
keputusan Ratu Sima.
5. Kehidupan Ekonomi
kehidupan perekonomian masyarakat
Kerajaan Holing berkembang pesat.
Masyarakat Kerajaan Holing telah
mengenal hubungan perdagangan. Mereka
menjalin hubungan perdagangan pada
suatu tempat yang disebut dengan pasar.
Pada pasar itu, mereka mengadakan
hubungan perdagangan dengan teratur.

Kerajaan Tarumanegara

Tarumanagara atau Kerajaan
Taruma adalah sebuah
kerajaan yang pernah
berkuasa di wilayah barat
pulau Jawa pada abad ke-4
hingga abad ke-7 M. Taruma
merupakan salah satu
kerajaan tertua di Nusantara
yang meninggalkan catatan
sejarah. Dalam catatan
sejarah dan peninggalan
artefak di sekitar lokasi
kerajaan, terlihat bahwa
pada saat itu Kerajaan
Taruma adalah kerajaan
Hindu beraliran Wisnu.
A. RAJA-RAJA DI KERAJAAN
TARUMANEGARA
Tarumanagara sendiri hanya
mengalami masa
pemerintahan 12 orang raja.
Pada tahun 669,
Linggawarman, raja
Tarumanagara terakhir,
digantikan menantunya,
Tarusbawa. Linggawarman
sendiri mempunyai dua
orang puteri, yang sulung
bernama Manasih menjadi
istri Tarusbawa dari Sunda
dan yang kedua bernama
Sobakancana menjadi isteri
Dapuntahyang Sri Jayanasa
pendiri Kerajaan Sriwijaya.
Secara otomatis, tahta
kekuasaan Tarumanagara
jatuh kepada menantunya
dari putri sulungnya, yaitu
Tarusbawa.
Kekuasaan Tarumanagara
berakhir dengan beralihnya
tahta kepada Tarusbawa,
karena Tarusbawa pribadi
lebih menginginkan untuk
kembali ke kerajaannya
sendiri, yaitu Sunda yang
sebelumnya berada dalam
kekuasaan Tarumanagara.
Atas pengalihan kekuasaan ke
Sunda ini, hanya Galuh yang
tidak sepakat dan
memutuskan untuk berpisah
dari Sunda yang mewarisi
wilayah Tarumanagara.
Raja-raja Tarumanegara
1. Jayasingawarman 358-382
2. Dharmayawarman 382-395
3. Purnawarman 395-434
4. Wisnuwarman 434-455
5. Indrawarman 455-515
6. Candrawarman 515-535
7. Suryawarman 535-561
8. Kertawarman 561-628
9. Sudhawarman 628-639
10. Hariwangsawarman
639-640
11. Nagajayawarman 640-666
12. Linggawarman 666-669
B. SUMBER-SUMBER
SEJARAH
Bukti keberadaan Kerajaan
Taruma diketahui melalui
sumber-sumber yang berasal
dari dalam maupun luar
negeri. Sumber dari dalam
negeri berupa tujuh buah
prasasti batu yang ditemukan
empat di Bogor, satu di
Jakarta dan satu di Lebak
Banten. Dari prasasti-prasasti
ini diketahui bahwa kerajaan
dipimpin oleh Rajadirajaguru
Jayasingawarman pada tahun
358 M dan beliau
memerintah sampai tahun
382 M. Makam
Rajadirajaguru
Jayasingawarman ada di
sekitar sungai Gomati
(wilayah Bekasi). Kerajaan
Tarumanegara ialah
kelanjutan dari Kerajaan
Salakanagara.
Sedangkan sumber-sumber
dari luar negeri yang berasal
dari berita Tiongkok antara
lain:
Berita Fa-Hsien, tahun 414 M
dalam bukunya yang
berjudul Fa-Kao-Chi
menceritakan bahwa di Ye-
po-ti hanya sedikit dijumpai
orang-orang yang beragama
Buddha, yang banyak adalah
orang-orang yang beragama
Hindu dan sebagian masih
animisme.
Berita Dinasti Sui,
menceritakan bahwa tahun
528 dan 535 telah datang
utusan dari To- lo-mo yang
terletak di sebelah selatan.
Berita Dinasti Tang, juga
menceritakan bahwa tahun
666 dan 669 telah datang
utusaan dari To-lo-mo.
Dari tiga berita di atas para
ahli menyimpulkan bahwa
istilah To-lo-mo secara
fonetis penyesuaian kata-
katanya sama dengan
Tarumanegara.
Maka berdasarkan sumber-
sumber yang telah dijelaskan
sebelumnya maka dapat
diketahui beberapa aspek
kehidupan tentang kerajaan
Tarumanegara.
Kerajaan Tarumanegara
diperkirakan berkembang
antara tahun 400-600 M.
Berdasarkan prasast-prasati
tersebut diketahui raja yang
memerintah pada waktu itu
adalah Purnawarman.
Wilayah kekuasaan
Purnawarman menurut
prasasti Tugu, meliputi
hampir seluruh Jawa Barat
yang membentang dari
Banten, Jakarta, Bogor dan
Cirebon.
C. PRASASTI-PRASASTI
KERAJAAN TARUMANEGARA
1. Prasasti Ciaruteun
Salinan gambar prasasti
Ciaruteun dari buku The
Sunda Kingdom of West Java
From Tarumanagara to
Pakuan Pajajaran with the
Royal Center of Bogor.
Prasasti Ciaruteun atau
prasasti Ciampea ditemukan
ditepi sungai Ciarunteun,
dekat muara sungai Cisadane
Bogor prasasti tersebut
menggunakan huruf Pallawa
dan bahasa Sansekerta yang
terdiri dari 4 baris disusun
ke dalam bentuk Sloka
dengan metrum Anustubh. Di
samping itu terdapat lukisan
semacam laba-laba serta
sepasang telapak kaki Raja
Purnawarman.
Gambar telapak kaki pada
prasasti Ciarunteun
mempunyai 2 arti yaitu:
Cap telapak kaki
melambangkan kekuasaan
raja atas daerah tersebut
(tempat ditemukannya
prasasti tersebut).
Cap telapak kaki
melambangkan kekuasaan
dan eksistensi seseorang
(biasanya penguasa)
sekaligus penghormatan
sebagai dewa. Hal ini berarti
menegaskan kedudukan
Purnawarman yang
diibaratkan dewa Wisnu
maka dianggap sebagai
penguasa sekaligus pelindung
rakyat
2. Prasasti Jambu
Prasasti Jambu atau prasasti
Pasir Koleangkak, ditemukan
di bukit Koleangkak di
perkebunan jambu, sekitar
30 km sebelah barat Bogor,
prasasti ini juga
menggunakan bahwa
Sansekerta dan huruf Pallawa
serta terdapat gambar
telapak kaki yang isinya
memuji pemerintahan raja
Mulawarman.
3. Prasasti Kebonkopi
Prasasti Kebonkopi
ditemukan di kampung
Muara Hilir kecamatan
Cibungbulang Bogor . Yang
menarik dari prasasti ini
adalah adanya lukisan tapak
kaki gajah, yang disamakan
dengan tapak kaki gajah
Airawata, yaitu gajah
tunggangan dewa Wisnu.
4. Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten,
ditemukan di Bogor, tertulis
dalam aksara ikal yang
belum dapat dibaca. Di
samping tulisan terdapat
lukisan telapak kaki.
5. Prasasti Pasir awi
Prasasti Pasir Awi ditemukan
di daerah Leuwiliang, juga
tertulis dalam aksara ikal
yang belum dapat dibaca.
6. Prasasti Cidanghiyang
Prasasti Cidanghiyang atau
prasasti Lebak, ditemukan di
kampung lebak di tepi sungai
Cidanghiang, kecamatan
Munjul kabupaten
Pandeglang Banten. Prasasti
ini baru ditemukan tahun
1947 dan berisi 2 baris
kalimat berbentuk puisi
dengan huruf Pallawa dan
bahasa Sansekerta. Isi
prasasti tersebut
mengagungkan keberanian
raja Purnawarman.
7. Prasasti Tugu
Prasasti Tugu di Museum
Nasional. Prasasti Tugu di
temukan di daerah Tugu,
kecamatan Cilincing Jakarta
Utara. Prasasti ini dipahatkan
pada sebuah batu bulat
panjang melingkar dan isinya
paling panjang dibanding
dengan prasasti
Tarumanegara yang lain,
sehingga ada beberapa hal
yang dapat diketahui dari
prasasti tersebut.
Hal-hal yang dapat diketahui
dari prasasti Tugu adalah:
Prasasti Tugu menyebutkan
nama dua buah sungai yang
terkenal di Punjab yaitu
sungai Chandrabaga dan
Gomati. Dengan adanya
keterangan dua buah sungai
tersebut menimbulkan
tafsiran dari para sarjana
salah satunya menurut
Poerbatjaraka. Sehingga
secara Etimologi (ilmu yang
mempelajari tentang istilah)
sungai Chandrabaga diartikan
sebagai kali Bekasi.
Prasasti Tugu juga
menyebutkan anasir
penanggalan walaupun tidak
lengkap dengan angka
tahunnya yang disebutkan
adalah bulan phalguna dan
caitra yang diduga sama
dengan bulan Februari dan
April.
Prasasti Tugu yang
menyebutkan
dilaksanakannya upacara
selamatan oleh Brahmana
disertai dengan seribu ekor
sapi yang dihadiahkan raja.
D. KEHIDUPAN KERAJAAN
TARUMANEGARA
KEHIDUPAN POLITIK
Berdasarkan tulisan-tulisan
yang terdapat pada prasasti
diketahui bahwa raja yang
pernah memerintah di
tarumanegara hanyalah raja
purnawarman. Raja
purnawarman adalah raja
besar yang telah berhasil
meningkatkan kehidupan
rakyatnya. Hal ini dibuktikan
dari prasasti tugu yang
menyatakan raja
purnawarman telah
memerintah untuk menggali
sebuah kali. Penggalian
sebuah kali ini sangat besar
artinya, karena pembuatan
kali ini merupakan
pembuatan saluran irigasi
untuk memperlancar
pengairan sawah-sawah
pertanian rakyat.
KEHIDUPAN SOSIAL
Kehidupan social kerajaan
tarumanegara sudah teratur
rapi, hal ini terlihat dari
upaya raja purnawarman
yang terus berusaha untuk
meningkatkan kesejahteraan
kehidupan rakyatnya. Raja
purnawarman juga sangat
memperhatikan kedudukan
kaum brahmana yang
dianggap penting dalam
melaksanakan setiap upacara
korban yang dilaksanakan di
kerajaan sebagai tanda
penghormatan kepada para
dewa.
KEHIDUPAN EKONOMI
Prasasti tugu menyatakan
bahwavraja purnawarman
memerintahkan rakyatnya
untuk membuat sebuah
terusan sepanjang 6122
tombak. Pembangunan
terusan ini mempunyai arti
ekonomis yang besar nagi
masyarakat, Karena dapat
dipergunakan sebagai sarana
untuk mencegah banjir serta
sarana lalu-lintas pelayaran
perdagangan antardaerah di
kerajaan tarumanegara
denagn dunia luar. Juga
perdagangan dengan daera-
daerah di sekitarnya.
Akibatnya, kehidupan
perekonomian masyarakat
kerajaan tarumanegara
sudah berjalan teratur.
KEHIDUPAN BUDAYA
Dilihat dari teknik dan cara
penulisan huruf-huruf dari
prasasti-prasasti yang
ditemukan sebagai bukti
kebesaran kerjaan
tarumanegara, dapat
diketahui bahwa tingkat
kebudayaan masyarakat pada
saat itu sudah tinggi. Selain
sebagai peninggalan budaya,
keberadaan prasasti-prasasti
tersebut menunjukkan telah
berkembangnya kebudayaan
tulis menulis di kerajaan
tarumanegara.

Template by:

Free Blog Templates